Jejak Bung Karno dan Tan Malaka di Banten Selatan (Part 2)

Soekarno dan Tan Malaka. (Dok:net)Soekarno dan Tan Malaka. (Dok:net)

TitikNOL – Jejak Presiden Pertama Soekarno dan Bung Hatta yang merupakan orang orang besar di Republik Indonesia ternyata memiliki cerita perdebatan di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak Banten. Salah satunya, ketika Soekarno berdebat hebat dengan Tan Malaka, dikutip dari Blogspot Indonesia Humanis.

Bung Karno datang bersama Bung Hatta dan para anggota Jawa Hokokai, yang datang ke Kecamatan Bayah untuk berpidato. Kedatangan tersebut, bagian dari kampanye Bung Karno untuk bekerja sama dengan Pemerintah Pendudukan Jepang, yang ia yakini akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Sebelumnya, pada 3 September 1944, Bung Karno telah memberangkatkan 500-an romusha ke Burma.

Para romusha itu berangkat dengan bangga, diiringi pidato Soekarno. "Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon.Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha, sebagai tanda bukti kepada negara,” kata Bung Karno, seperti tertuang dalam buku yang ditulis Aiko Kurasawa.

Bung Karno sendiri datang ke Bayah sebagai romusha. Pada lengannya tertulis pita besar bernomor 970. Romusha bernama Soekarno itu ditulis koran-koran zaman itu tinggal di pondokan sederhana romusha, makan makanan mereka.Koran juga memuat foto saat Bung Karno mengangkat karung pasir dalam pekerjaan sehari-hari romusha.

Bedanya, Bung Karno dan rombongan beberapa hari kemudian pulang ke Jakarta, dan para romusha asli tidak.

Pada saat acara penyambutan kedatangan Bung Karno dan kawan-kawan itulah, terjadi perdebatan antara Bung Karno dengan Ilyas Tan Malaka. Pidato Soekarno bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia, dibantah Tan Malaka. Itulah perbedaan sikap kedua pemimpin, pejuang yang sama-sama mencita-citakan kemerdekaan Indonesia itu.

Kita tahu, soal romusha seringkali menjadi titik hitam yang kerap dialamatkan kepada hidup Bung Karno. Pasalnya, sebagaimana kerja paksa yang digelar Jepang di sepanjang Nok Pla Duk (Thailand) ke Thanbyuzayet (Burma), yang menurut sejarahwan Aiko Kurasawa menyebabkan kematian 30 ribu romusha diantaranya asal Indonesia. Demikian pula di pembuatan rel Saketi-Bayah. Ribuan romusha mati kelaparan dan diserang penyakit. Dalam catatannya, Tan Malaka menulis, di sarang malaria dan kolera itu, setidaknya 300-an romusha mati setiap bulan.

Tetapi bukankah manusia memang layak punya cela? Bung Karno sendiri bukan seorang berhati keras membatu. Kepada penulis biografinya, Cindy Adam, almarhum menyampaikan pengakuan yang lebih laik satu penyesalan.

Baca juga: Jejak Bung Karno dan Tan Malaka di Banten Selatan

“Sesungguhnya akulah (Sukarno) yang mengirim mereka kerja paksa.Ya, akulah orangnya.Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha.Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk”. (Dede/red)

Komentar