SERANG, TitikNOL - Kegiatan diskusi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dan mahasiswa yang diselenggarakan di Pendopo Bupati Serang sempat menegang dan cekcok karena balas argumen.
Insiden itu terjadi berawal dari salah satu mahasiswa Rafli bertanya tentang program pembangunan yang telah dilaksanakan oleh Pemkab Serang. Tidak sampai disitu, ia juga mengkritik Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Serang Bahrul Ulum yang tidak kritis terhadap kebijakan eksekutif.
"Bagaimana kesiapan Pemkab Serang untuk menanangani virus Corona? Kapan Pemkab Serang menyelesaikan kasus kekerasan anak? Kapan Penerangan Jalan Umum PJU di Serang bisa mulai di benahi dan di bangun? Pengangguran di Kabupaten Serang nomor 2 di Banten, tidak berkorelasi dengan jumlah pabrik yang mencapai 500 lebih. Solusi untuk menanangani pengangguran?," katanya saat ditemui usai diskusi, Rabu, (04/03/2020).
Bahkan, pihaknya menilai kerja politisi Golkar yang menjadi Wakil rakyat itu hanya bisa kondangan dan mengirim karangan bunga saja. Tidak ada kinerja yang membanggakan dari lembaga legislatif.
"Dewan kagak galak sama Bupati. Kerjaannya cuma datang ke nikahan undangan dan memberikan kiriman bunga. Mending uang bungannya dipakai untuk rakyat," cetusnya.
Menjawab tudingan tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Serang Bahrul Ulum mengatakan, bahwa undangan merupakan bagian dari silaturahmi untuk menyerap aspirasi dan keluhan masyarakat.
Ia juga menyebutkan, banyak hikmah dalam mengunjungi masyarakat. Seperti banyak kasus ditemukan jalan rusak. Kemudian pihaknya langsung berkomunikasi dengan intansi terkait untuk meminta kejelasan. Cara ini yang dilakukan pihaknya dalam mengawasi dan mengawal program Bupati Serang.
"Kalau kondangan bukan berarti tidak kerja kang, cuma caranya berbeda. Banyak kasus jalan rusak ketika kondangan, saya telpon kadisnya untuk menyelesaikan keluhan masyarakat," jawabnya.
Menurutnya, mengkritisi kebijakan eksekutif tidak harus dengan marah-marah dan mengeluarkan stetmen melalui media massa. Sebab, yang paling efektif adalah berkoordinasi dan mengevaluasi kinerja Pemkab Serang.
"Kok Bupati Serang enak saja tidak di kritisi ketua Dewan. Bagaimana 98 pemerintahan ambruk karena eksekutif dan legislatif bertentangan. Ngapain harus ngotot kalau cara soft bisa dilakukan. Masa semaunya harus diomongin di publik, kan nggak bagus secara etika," terangnya.
Ditengah penjelasannya, Rafli memotong pembicaraan Bahrul Ulum dengan intonasi yang tinggi serta mengagetkan seluruh peserta diskusi. Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai bentuk protes ketidakpuasan terhadap jawaban pimpinan wakil rakyat.
"Abang ini sebagai ketua DPRD, biarkan ibu Bupati menjawab, abang bukan juru bicara Bupati," paparnya.
"Anda bilang ketua dewan hanya kondangan saja, ini saya klarifikasi," timpal Ulum.
Setelah melihat perdebatan itu, beberapa pegawai Pemkab Serang mencoba meredamkan Rafli agar menurunkan tensi pembicaraan.
Menyaksikan insiden tersebut, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan, sebagai generasi Bangsa dan fungsi kontrol sosial harus berdialektika dengan etika yang baik. Agar aspirasi yang disampaikan dapat diterima.
"Diskusi itu jangan menyudutkan seseorang, nggak boleh ada misi ketidaksukaan pribadi. Itu mas yang diujung jangan marah, diskusinya nggak jalan," ungkapnya.
Setelah diimbau, kemudian Tatu Chasanah menerangkan progres pembangunan yang telah dilaksanakan dimasa pimpinannya. Diskusi pun berjalan dengan lancar kembali. (Son/TN1)