Kopi dan Jengkol Bisa Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Baru di Banten

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Banten Erwin Suryadimaja. (Foto: TitikNOL)Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Banten Erwin Suryadimaja. (Foto: TitikNOL)
SERANG, TitikNOL - Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Banten Erwin Suryadimaja mengatakan, kopi dan coklat bisa menjadi pertumbuhan ekonomi baru di Banten. Hal itu mengingat kebutuhan kopi dan coklat sangat tinggi.

Bukan hanya permintaan tinggi di Banten, Kopi dan Coklat juga tinggi permintaannya dari luar Banten bahkan luar negeri.

"Justru sumber pertumbuhan ekonomi baru itu komoditas cokelat, kopi itu sebenarnya permintaannya cukup tinggi. Sebenarnya kopi dan cokelat yg bisa mengangkat lebih tinggi pertumbuhan ekonomi di sini," kata Erwin kepada media, saat menggelar Pertemuan tahunan bank Indonesia (BI) Provinsi Banten tahun 2019, Kota Serang, Kamis (12/12/2019) kemarin.

Erwin mengatakan, Banten sangat cocok untuk menanam kopi. Hal itu dilihat dari postur tanah yang subur. Bahkan, tanaman kopi juga sudah banyak tumbuh di Banten, tinggal bagaimana pengelolaan yang dibentuk.

"Banyak untuk perkebunan kopi tapi masih perlu dikelola karena kalau untuk kopi itu 60 persen tergantung pada hasil pertaniannya dan kemudian hasil rostingnya," ujarnya.

Sementara untuk Jengkol, Erwin mengatakan pernah menjadi pemicu inflasi dibeberapa waktu lalu, karena permintaan di Banten tinggi.

"Ini kemudian yang menjadikan pemprov Banten giat mencari area yg bisa dikembangkan untuk jengkol. Akan lebih baik kalau misalkan kita bisa memproduksi jengkol di area sini (Banten, red) kemudian untuk memenuhi kebutuhan di Povinsi Banten," sambungnya.

Lanjut Erwin, dirinya mengaku masih melihat langkah pengembangan dari Provinsi Banten. Dia pun menyarankan, agar Pemprov sebaiknya fokus pada komoditas pangan strategis seperti beras dan cabai, karena itu defisit yang paling tinggi di Banten.

"Jengkol pernah muncul sebagai pemicu inflasi, pada wkt itu 0,2 persen inflasinya. Barangkali permintaan di sini tinggi, kemudian pemerintah mengembangkan jengkol," tukasnya. (Lib/TN1)

Komentar