50 Karya Seni Fotograpi dan Lukis Para Difabel Dipamerkan di Museum Banten

Pengunjung tengah berfoto membelakangi lukisan hasil buah karya para difabel yang dipamerkan di Museum Nasional Banten. (Foto: TitikNOL)Pengunjung tengah berfoto membelakangi lukisan hasil buah karya para difabel yang dipamerkan di Museum Nasional Banten. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL – Jika pada umumnya pameran fotograpi dan lukisan diciptakan oleh para pelaku seni hebat dan profesional, siapa sangka! ternyata tangan anak-anak difabel atau berkebutuhan khusus tak kalah hebat dibidang seni fotograpi dan lukisan.

50 karya fotograpi dan lukis buah karya para difabel dipamerkan di Museum Nasional Banten di Jl. Brigjen K.H Syamun, Kota Serang. Selain itu, kreatifitas berupa anyaman dan kreatifitas lainnya pun dipamerkan dalam kegiatan yang baru dibuka Rabu (21/12/2016) ini.

Bahkan, lukisan yang dipamerkan tak kalah hebat dengan pelaku seni profesional. Tidak hanya itu, jajaran lukisan dan hasil fotograpi terpampang mengelilingi ruang utama museum ini akan dibuka untuk umum hingga tiga hari ke depan.

Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Perkumpulan Sahabat Difable (Persada) Memi Elmiliasari yang juga sebagai penyelenggara mengatakan, pameran ini dibuat untuk menunjukan kepada publik jika anak-anak difable memiliki potensi yang besar dan perlu terus diasah dan dibina.

"Karya ini buktinya. Semua karya tangan anak-anak yang dibuatnya dalam kurun waktu tahun 2014 hingga sekarang," kata Memi disela-sela pameran di Museum Banten.

Lanjut Memi, anak-anak difable perlu mempunyai ruang dan kesempatan untuk mengeksresikan potensi dalam dirinya, baik itu berupa seni maupun lainnya. Selain itu, anak-anak difabel pun membutuhkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Saya rasa selama ini sangat kurang, mungkin tidak ada fasilitas umum untuk difable. Karena itu kita meminta agar dibuatnya Perda tentang difable," ujarnya.

Salah satu difabel yang karyanya dipamerkan, Athallah Wafi mengaku sudah lama menyukai seni lukis. Remaja berusia 14 tahun yang akrab disapa Athal ini mengaku belajar melukis secara otodidak.

"Sukanya gambar kartun, sudah banyak di rumah, inspirasinya apa yang dilihat saja," ujar remaja penderita tuna rungu dengan bahasa tubuh yang diterjemahkan oleh sang kakak, Keisha Khalillah Elmian Loupias.

Selain melukis, warga Ciracas, Kota Serang dan siswa di Sekolah Khusus Anak Mandiri ini pun menyukai menari, bahkan dalam kesempatan wawancara Athal tak segan menunjukan bakatnya tersebut.

Sementara itu, Kepala Balai Budaya Ujang Rafiudin mengaku sangat mengapresiasi agenda pameran ini. Menurutnya, Balai Budaya akan mendukung siapapun yang ingin menyelenggarakan kegiatan positif seperti ini.

"Saya menilai ini adalah ruang ekspresi anak-anak difabel, saya akan mendukung, mungkin sekarang Persada, nanti kelomok atau ormas lain silahkan, akan kita dukung dengan fasilitasi tempat seperti ini," tukasnya. (Meghat/red)

Komentar