Demo HUT ke-190 Kabupaten Lebak, Ini yang Disoroti GMNI

Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Lebak saat menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang kantor Bupati Lebak, Kamis (6/12/2018). (Foto: TitikNOL)Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Lebak saat menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang kantor Bupati Lebak, Kamis (6/12/2018). (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Lebak menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu gerbang kantor Bupati Lebak, Kamis (6/12/2018). Aksi yang digelar berkaitan dengan hari jadi Kabupaten Lebak ke 190 tahun.

Dalam orasinya, mahasiswa menyebut seharusnya Kabupaten Lebak di usia ke 190 sudah menjadi kabupaten yang maju dari segi infrastuktur, ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Namun, hingga saat ini Kabupaten Lebak masih menurut mereka masih dicap menjadi kabupaten yang tertinggal dari segala sudut, termasuk sisi kemanusiaan yang masih memprihatinkan dan luput dari pandangan pemangku kebijakan.

Hal itu dibuktikan kata pendemo, dengan masih banyaknya isu kekerasan perempuan dan anak. Ironisnya, para korban juga enggan melaporkan kejadian yang dialaminya. Sebab, kurangnya sosialisasi Pemkab Lebak di bidang perlindungan terhadap perempuan.

Ketidaktahuan kemana mereka harus melaporkan dan berlindung terutama warga di pelosok dan para perempuan yang sering menjadi korban kekerasan seksual, menjadi bukti tidak adanya sosialisasi.

Selain itu, pendemo juga menyoal bidang pariwisata yang menjadi fokus dan tema HUT Lebak, salah satunya kawasan pantai selatan sebagai destinasi pariwisata yang diklaim akan menunjang perekonomian bagi warga sekitar.

Namun, persoalan yang dialami saat ini dengan adanya pabrik yang beroperasi di sekitar pantai akan membuat pantai menjadi tercemar. Hal itu pun dinilai merugikan baik dari segi pariwisata, warga dan ekosistem di laut itu sendiri.

"Kami dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menuntut Pemkab Lebak memberikan dan membuat tempat pelayanan serta pengaduan di setiap pelosok pelosok desa bagi korban kekerasan perempuan dan anak. Mendesak pemerintah pusat agar segera menyelesaikan dan mengesahkan RUU penghapusan kekerasan seksual," ujar Sandy Maulana, korlap aksi.

"Pemerintah harus lebih fokus memantau prosedur pengelolaan limbah sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan (RKL), rencana pemantauan lingkungan (RPL) dan analisis dampak lingkungan (Amdal) agar tidak merugikan warga dan berdampak buruk bagi segi pariwisata," ujar Sandy menambahkan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi puluhan aktivis mahasiswa dari GMNI Lebak tersebut sempat memanas. Kondisi dipicu ketika mahasiswa mencoba merangsek ke depan pintu gerbang kantor bupati Lebak, namun dihalau oleh petugas kepolisian yang mengamankan aksi.

Aksi saling dorong pun tak dapat dihindari antara petugas dan mahasiswa dari GMNI yang menggelar aksi. (Gun/TN3)

Komentar