Dianggap Cuek Soal Pungli Nelayan Binuangeun, Bupati Lebak Ditantang Debat oleh Warganya

Muara Binuangeun, Lebak, Banten. (Dok: lebak-online.blogspot)
Muara Binuangeun, Lebak, Banten. (Dok: lebak-online.blogspot)

LEBAK, TitikNOL - Sejumlah nelayan dan pemuda di Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, sepertinya tidak terima dengan pernyataan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, yang menyebut adanya kepentingan usaha di balik aksi yang dilakukan di Pemkab Lebak beberapa pekan lalu.

Ongkoh, salah satu nelayan di Binuangeun, mengaku prihatin dengan pernyataan yang disampaikan Bupati Lebak soal pungli di Binuangen. Menurutnya, Bupati Lebak seharusnya tahu kondisi nelayan di Binuangeun yang merasa diberatkan dengan pungutan yang diambil oleh oknum di Dinas Kelautan dan Perikanan Lebak tersebut.

"Saya sedih Pak pas denger Bu Bupati ngomong gitu. Padahal saya diberatkan dengan adanya pungli itu. Ini sudah jelas pungli kok dan kami dirugikan," ujar Ongkoh saat dihubungi wartawan, Jumat (21/7/2017).

Baca juga: Pernyataan Bupati Lebak Ditanggapi Sinis, FKMMN: Pantesan Lebak Selalu Tertinggal

Menurutnya, seharusnya Bupati Lebak peka terhadap kondisi yang terjadi di Binuangeun. Terlebih, informasi yang disampaikan soal adanya pungli di Binuangeun sudah gamblang dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan beberapa waktu lalu.

"Saya ikut waktu aksi kemarin dan persoalan pungli sudah dibeberkan sejelas-jelasnya. Kenapa Bu Bupati masih tidak meresponnya,"keluhnya.

Sementara itu, Sekretaris Forum Komunikasi Masyarakat Mandiri dan Nelayan (FKMMN) Aga Permana, mendesak agar Bupati Lebak mengundang pihak nelayan di Binuangeun untuk duduk bersama membahas soal dugaan pungli di Binuangeun. Menurutnya hal itu perlu dilakukan, agar bupati tidak merespon secara sepihak terkait persoalan di Binuangeun.

"Kami ingin membuktikan soal pungli di Binuangeun. Makanya kami ingin menantang debat publik dengan Bupati Lebak. Biar masyarakat tahu ada atau tidaknya pungli di Binuangeun. Kami yakin, yang disampaikan bupati kemarin hanya berasal dari koleganya saja tanpa melakukan kroscek," ujar Aga.

Di sisi lain Aga menduga, sikap yang ditunjukan oleh Bupati Lebak merupakan upaya untuk melindungi oknum di bawah jajarannya, yang diketahui telah melakukan tindakan pungli kepada nelayan di Binuangeun.

"Saya bingung, bahasa Bupati itu bahasa yang mengerti hukum atau malah melindungi oknum? Makanya hayu, kalau berani Bupati undang kita. Biar kita beberkan segamblang-gamblangnya soal pungli di Binuangeun," sinisnya.

Aga mengaku akan menghimpun nelayan dan masyarakat di Lebak Selatan dan memberitahukan kepada mereka, bahwa pemimpin di Kabupaten Lebak tidak pro rakyat dan hanya melindungi para oknum yang menikmati uang nelayan.

"Kita akan himpun tidak hanya nelayan tapi masyarakat di sini. Kita akan beritahukan bahwa pimpinan kita tidak pro rakyat dan bukan sosok pemimpin yang ideal," tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, pernyataan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya yang menyebut adanya persaingan usaha di balik aksi unjuk rasa nelayan dan warga ke kantor bupati, mendapatkan reaksi keras dari sejumlah kalangan di Binuangeun. Mereka bahkan menuding jika bupati terkesan melindungi jajarannya yang melakukan pungli. (red)

Komentar