Diduga Dianiaya, TKW Asal Banten Tewas di Suriah

Perwakilan KBRI di Suriah saat melihat kondisi jenazah Timong (28) binti Salwani seorang TKW asal Kampung Puyuh Koneng, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang. (Foto: Ist)Perwakilan KBRI di Suriah saat melihat kondisi jenazah Timong (28) binti Salwani seorang TKW asal Kampung Puyuh Koneng, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang. (Foto: Ist)

SERANG, TitikNOL - Diduga akibat sering di perlakuan kasar oleh majikan, Timong (28) binti Salwani seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Puyuh Koneng, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, meninggal di Suriah.

Dikatakan sang suami Holyadi (35), kabar sang istri meninggal dunia didapat dari rekan korban yang bekerja di Suriah. Selain kabar dari rekannya, Holyadi juga mendapatkan kabar resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriah.

"Saya mendapat informasi dari rekan bahwa istri saya meninggal disuriah, dikasih kabar hari Senin (31/7/2017) kemarin," kata Holyadi saat temui di rumahnya, Kamis (3/8/2017).

Holyadi menjelaskan, selama almarhumah bekerja di Suriah selama 1,5 tahun, dirinya mengaku sering mendapat keluhan terkait kerja sang istri yang sering dipukuli dan tidak diberi makan sampai gajinya tidak dibayar sejak awal bekerja sampai sekarang.

"Mendapat kabar saat dihubungi melalui telephone istri saya sering mendapat perlakuan kasar oleh majikan bahkan hingga dipukul. Selain itu selama bekerja di suriah satu setengah tahun, tidak mendapatkan gaji sama sekali dan kurang makan," jelasnya.

Menurut Holyadi, Timong bekerja lebih dari setahun dan berangkat melalui sponsor yang berada di kampung Babadan, Kecamatan Pontang dan disalurkan ke PT Konsul Jakarta.

"Katanya mau dijanjikan ditempatkan di arab saudi namun pihak penyalur tenaga kerja memperkerjakan istri saya di suriah," ungkapnya.

Saat ini, Holyadi hanya bisa berharap jenazah sang istri dapat secepatnya untuk dipulangkan ke tanah air. Ia juga berharap pemerintah pusat dapat membantu percepatan pemulangan jasad sang istri.

"Saya berharap jenazah isrti saya cepat di pulangkan, saya juga meminta pemerintah untuk mempercepat pemulangan istri saya," harapnya.

Korban meninggalkan dua anak perempuan yang masih kecil yakni Sri Puspita (8) belum sekolah dan Nur Azizah (5) yang baru menginjak kelas satu Sekolah Dasar (SD). (Gat/red)

Komentar