Ditolak Berobat di Rumah Sakit, Warga Miskin Penderita Tumor Pasrah

Nurhayati penderita tumor ganas tertidur lemah diatas kasur ditemani suaminya, Zaenal Arifin. (Foto: TitikNOL)Nurhayati penderita tumor ganas tertidur lemah diatas kasur ditemani suaminya, Zaenal Arifin. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Nurhayati (37), warga Kampung Babadan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, harus bertahan dalam kesakitan setiap harinya karena mengalami tumor ganas di bagian matanya. Ironisnya, meski tergolong keluarga miskin, sampai saat ini luput dari perhatian pemerintah setempat.

Penyakit yang dideritanya sejak lima tahun ini, berupa benjolan besar di bagian matanya. Benjolan inilah yang selalu membuat Nurhayati merasa kesakitan hingga mengeluarkan darah.

Nurhayati tinggal bersama sang suami Zaenal Arifin (45) serta dua anaknya yang masih balita. Suaminya Zaenal, tidak bisa berbuat banyak, karena keterbatasan ekonomi yang dialaminya.

Ditemui di rumahnya yang hanya berukuran dua kali dua meter, Zaenal mengaku ingin sekali istrinya sembuh dan diangkat tumornya. Namun Zaenal yang hanya bekerja sebagai nelayan ini, tidak mempunyai uang cukup untuk membiayai pengobatan dan operasi istrinya.

“Enggak punya biaya. Saya pengangguran dulu nelayan dapat uang cuma bisa beli obat saja, saya bingung mau gimana lagi seadanya di rawat di sini, dapat uang beliin obat saja langsung,” kata Zaenal, Rabu (13/9/2017).

Ia mengakui, selama ini dirinya tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan Zaenal sempat berobat beberapa kali ke rumah sakit hanya dengan biaya seadanya saja, untuk melakukan Kontrol namun tidak mampu untuk melakukan operasi.

“Dulu pernah ke Rumah sakit di Jakarta, katanya ini Tumor Falfera bukan tumor ganas. Tapi kalau didiemin jadi tumor ganas, nah ini sekarang udah ganas. Pernah coba mau ke rumah sakit di Serang tapi ditolak semua, di Rumah sakit Serang di tolak, rumah sakit Banten tolak, rumah sakit Sari Asih ditolak karena alasannya tidak ada peralatan untuk tumor,” ungkapnya.

Lantaran keterbatasan biaya, akhirnya Nurhayati gagal melakukan operasi tumor di matanya. Sang suami Zaenal pun kembali membawa sang istri ke rumahnya dan merawat seadanya.

”Uang buat beli obat mahal mas sampai Rp800 ribu sekali beli obat, uangnya dari mana buat makan aja susah,” lanjutnya.

Saat ini, Zaenal hanya berharap mendapatkan pertolongan agar istrinya bisa selamat dari penyakit tumor, sehingga bisa mengurus keluarga dan dua orang anaknya yang masih berusia satu tahun dan tiga tahun.

”Saya Cuma berharap istri saya bisa tertolong, karena enggak sanggup saya kalau harus kehilangan istri. Kasihan anak saya,” pungkasnya.

Ironinya, di tengah gencarnya pemerintah menyatakan bahwa biaya pengobatan untuk masyarakat miskin dinyatakan gratis, tapi ternyata masih ada warga miskin yang terlantar. Keluarga zaenal dan Nurhayati berharap adanya uluran tangan dari pemerintah ataupun dari dermawan yang tergugah hatinya. (Gat/red)

Komentar