Duh! Alasan Tidak Ada Sopir Ambulan, Jenazah Terlantar di RSUD Adjidarmo

Dua orang warga sedang berdiri di depan RUSD Adjidarmo, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. (Dok: net)Dua orang warga sedang berdiri di depan RUSD Adjidarmo, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. (Dok: net)

LEBAK, TitikNOL – Belum usai persoalan dibentaknya salah satu keluarga pasien oleh petugas jaga di RSUD Adjidarmo karena berobat pada dini hari, kini persoalan baru yang mengindikasikan ketidak profesionalan rumah sakit milik Pemkab Lebak itu kembali terjadi.

Sabtu (6/5/2017) kemarin atau tepat di HUT ke-65 RSUD Adjidarmo, beredar sebuah video di grup WhatsApp wartawan di Kabupaten Lebak, yang diketahui dibuat oleh salah satu keluarga pasien bernama Didin Haryono, warga Kampung Bojong, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak.

Dalam video berdurasi 2 menit 50 detik itu, Didin menceritakan soal ada keluarganya bernama Hamdiyah (49) yang meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu. Dalam video itu, Didin menyebut bahwa pihak keluarga terbengkalai saat akan membawa jasad keluarganya karena terkendala mobil ambulan yang disebutnya tidak bisa membawa jasad keluarganya.

Dalam video itu, terlihat juga beberapa kerabat almarhumah yang berkumpul di luar ruangan. Sementara keluarganya yang lain terlihat sedang mengaji di depan jasad yang terbujur kaku di salah satu ruang perawatan.

Meski sambil berbicara, Didin menyusuri beberapa ruangan di rumah sakit itu, sambil berkeluh kesah tentang tidak adanya respon positif dari pihak rumah sakit, soal penggunaan mobil ambulan untuk membawa jasad almarhumah ke rumahnya.

“Ini keluarga kami yang menunggu dari tadi siang. Mereka terlantar karena tidak ada ambulan, namun kemudian diralat oleh pihak rumah sakit tidak ada sopir meski ambulan banyak. Awalnya pihak rumah sakit beralasan tidak ada ambulan, namun saat dilihat banyak ambulan di sini mereka beralasan tidak ada sopir,” ujar Didin dalam video itu.

Didin pun meminta perhatian Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, soal keluarganya yang terlantar. “Keluarga kami warga miskin dan peserta BPJS. Makanya hanya mampu berobat di kelas 3. Kami mohon perhatian pemerintah terutama Ibu Bupati, agar memperbaiki manajemen RUSD Adjidarmo. Mohon amaf ibu, ini adalah keluarga saya dari kampung, mereka hanya berobat kelas 3, saat ini dia kena ajal dan sudah meninggal, ironisnya tidak bisa pulang. Untuk itu kami mohon perhatian bupati,” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi wartawan, Didin mebjelaskan bahwa keluarganya yang meninggal bernama Hamdiyah (49) warga kampung Bojong, kecamatan Muncang dan menjalani perawatan di ruang Marqisa kelas III.

Baca juga: Duh! Niat Berobat ke RSUD Adjidarmo, Warga Ini Malah Dimarahi Petugas Jaga

Kata Didin, Hamdiyah meninggal dunia sekira pukul 14.00 WIB Sabtu siang kemarin. Namun, ia mendapat kabar jenazah tidak bisa dibawa pulang karena pihak RSUD Adjidarmo dengan alas an tidak ada mobil Ambulan untuk mengantar jenazah. Padahal kata Didin, banyak mobil Ambulan yang terparkir di halaman parkir RSUD Adjidarmo.

"Setalah saya datang dan saya cek sambil marah-marah, baru sekitar jam 16.15 WIB suruh bayar Ambulance Rp412 ribu. Mestinya masyarakat bawah dan miskin juga mendapat pelayanan yang sama, jangan pura-pura tidak ada dan jangan nunggu keluarga pasien marah-marah dulu baru ditanggapi dan dilayani. Kami juga manusia bukan binatang, ini mayat harus segera dibawa pulang dan harus diurusi sesuai syareat Islam. Tolong Ibu bupati untuk segera membenahi manajemen dan sikap serta mental petugas rumah sakit,"ujar Didin melalui pesan singkatnya kepada wartawan.

Sementara itu, hingga berita ini dirutunkan, wartawan belum mendapatkan konfirmasi dari pihak manajemen RSUD Adjidarmo. (Gun/rif)

Komentar