SERANG, TitikNOL - Setengah tahun lebih wabah covid-19 melanda di Kota Serang. Hampir semua anggaran pemerintah terkuras untuk penanganan kesehatan dan bantuan ekonomi terdampak virus corona.
Namun hingga kini, Kota Serang belum memiliki rumah singgah mandiri untuk pasien suspek Covid-19. Padahal, Pemkot Serang telah menganggarkan kebutuhan rumah singgah senilai Rp1,5 miliar.
Penyediaan rumah singgah di Kota Serang berlangsung secara dinamis. Rencana awal Rusunawa akan dijadikan rumah isolasi mandiri hanya tinggal wacana.
Berdasarkan data terakhir Dinas Kesahatan (Dinkes) Kota Serang, kasus warga terkonfirmasi positif mengalami peningkatan yang signifikan. Menurut catatan tanggal 18 Oktober 2020, ada 12 warga yang dinyatakan positif.
Wali Kota Serang Syafrudin mengakui grafik kasus warga terkonfirmasi covid-19 mengalami peningkatan. Namun, pemerintah melalui satgas penanganan covid-19 terus berupaya menekan angka positif.
"Selama ini kami tracking dari Dinkes apabila tepapar baik keluarganya, temannya, kami tracking semua. Sehingga, sampai hari ini peningkatan yang terpapar covid sangat meningkat," katanya saat ditemui di DPRD Kota Serang, Senin (19/10/2020).
Meski demikian, orang yang kerap disapa Kang Syaf itu mengklaim, bahwa jumlah kasus terkonfirmasi positif dan sembuh seimbang. Kasus positif melonjak diakibatkan dari masifnya swab.
"Tapi yang saya lihat yang isolasi mandiri dan sembuh itu seimbang. Sampai saat ini lonjakannya hasil swab saja. Terus kami obati lebih banyak yang sembuh. Jadi setelah 14 hari isolasi sembuh, jadi seimbang," terangnya.
Saat disinggung terkait rumah isolasi suspek covid-19, orang nomor satu di Kota Serang mengatakan, tempat isolasi mandiri di Kota Serang hanya ada di rumah sakit. Rumah isolasi mandiri belum ada. Namun, anggaran yang telah dialokasikan tetap utuh dan belum terpakai.
"Ada di RS juga kami punya, tapi belum membludak ya. Artinya selama ini kami siapkan dananya untuk rumah isolasi. Tapi belum terpakai, Rp1,5 miliar," terangnya. (Son/TN1)