SERANG, TitikNOL - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten bentuk relawan sahabat anak. Hal itu bertujuan sebagai perlindungan terhadap anak yang kerap menjadi korban kekerasan.
Selain itu, para relwan juga diberikan pengetahuan melalui Seminar dan Kuliah Pakar Perlindungan Anak bertempat di Graha Universitas Faletehan.
Ketua LPA Provinsi Banten, Hendry Gunawan mengatakan, relawan anak di tataran kampus dapat menjadi ujung tombak dalam memberikan perlindungan terhadap anak.
"Kami bersyukur atas dikukuhkannya Relawan Sahabat Anak, relawan Universitas Faletehan, relawan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, relawan Universitas Bina Bangsa, semoga para relawan yang telah dikukuhkan dapat menjadi ujung tombak pemenuhan hak-hak anak dan upaya perlindungan anak di provinsi Banten," katanya, Sabtu (27/11/2021).
Dengan menghadirkan para tokoh Banten, pihaknya berharap pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan dapat ditingkatkan. Sehingga anak tidak menjadi korban eksploitasi atau korban kekerasan
"Kami berharap dalam rangkaian diskusi seminar ini, para relawan dapat mengambil pelajaran berharga dari pengalaman para tokoh Banten dalam upaya perlindungan anak yang berjalan selama ini,“ ungkapnya.
Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Siti Ma’ani Nina memaparkan, saat ini di Pemprov Banten telah terbentuk 904 PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) di delapan kabupaten kota.
"Ini sebagai bentuk langkah strategis pemerintah provinsi Banten dengan melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya perlindungan anak secara bersama-sama, karena upaya pemenuhan hak anak tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu instansi Lembaga saja, seluruh masyarakat harus terlibat di dalamnya,†paparnya.
Sementara itu, Tokoh Banten H. Embay menjelaskan, ada tiga rangkaian penting dalam kehidupan manusia untuk dipahami dan jangan sampai ada langkah atau proses yang salah di dalamnya, yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian.
"Sebagai seorang manusia yang sempurna, jangan sampai ada tahapan yang salah dalam kehidupan kita, diawali dengan kelahiran, jangan sampai ada salah anak yang lahir tanpa ada orang tua, harus dipastikan siapa orang tuanya, karena berdampak pada masa depan si anak," jelasnya.
Menurutnya, memilih pasangan hidup menjadi pondasi dasar dalam melindungi anam. Maka menikahlah dengan orang yang tepat, jangan sampai menikah dengan orang yang salah. Karena pernikahan yang baik adalah pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.
"Yang terakhir kematian, di akhir kehidupan manusia kematian adalah tahapan akhir yang harus selesai dengan baik pula, semoga kita semua wafat dalam keadaan husnul khotimah,“ tuturnya.
Di sisi lain, Achmad Rozi, Ketua Ikatan Dosen RI yang juga Dewan Pakar LPA Provinsi Banten berujar, penting sebagai orang tua memberikan pengasuhan terbaik untuk anak-anaknya secara langsung.
“jangan sampai karena kesibukan, orang tua abai terhadap pengasuhan anak, orang tua juga penting untuk terus belajar terkait parenting, cara mengasuh dan mendidik anak, karena untuk menjadi orang tua, jangan sampai karena tidak punya ilmunya, kekerasan terjadi terhadap anak dalam proses pengasuhan dan pendidikan,“ ujarnya. (TN3)