SERANG, TitikNOL - Pembatalan pembuatan Masjid Agung Serang di Alun-alun menuai polemik yang berkepanjangan. Pasalnya, peletakan batu pertama sudah dilakukan pada tahun 2018 silam.
Rencana itu berubah, setelah adanya pergantian kepemimpinan Kota Serang dari Tb. Haerul Zaman kepada Syafrudin, karena dinilai tidak representatif.
Ketua Gerakan Pengawal Serang Madani (GPSM) H. Enting Abdul Karim mengatakan, perubahan rencana penetapan Masjid Agung Serang yang dialihkan di Masjid At-Tsauroh merupakan sebuah penipuan terhadap umat.
Bahkan, pihaknya menyebutkan bahwa mutu tag line pembangunan Wali kota Serang Syafrudin dan Wakil Wali kota Serang Subadri yakni Aje Kendor, saat ini telah kendor karena tidak konsisten pada sebuah kebijakan.
"Mutu Aje Kendor sudah keluar batas menjadi ajo kondor menurut saya. Sudah menipu umat ini, dulu kami apruk-aprukan supaya aje kendor berjalan sekarang malah kondor," katanya saat ditemui usai musyawarah dengan ulama, Selasa (25/02/2020).
Bukan tanpa alasan, H. Enting menuturkan, batalnya pembangunan Masjid Agung di Alun-alun adalah alasan politis dari pemangku kebijakan. Sebab, pada tanggal 13 September 2018 telah diletakan batu pertama. Kemudian tanggal 19 September 2018 ada oknum yang mendaftarkan jadi cagar budaya.
Dan hal itulah menjadi alasan Pemkot Serang untuk tidak membangun sebuah peradaban umat muslim ditengah pusat Ibu Kota Provinsi Banten.
"Kalau Masjid tidak jadi dibangun di Alun-alun, ya mungkin kepercayaan masyarakat hilang," ungkapnya.
Bahkan, ia mengungkapkan dalam waktu dekat ini akan melakukan somasi kepada Wali kota Serang Syafrudin sebagai bentuk kekecewaan umat. Apabila masih tidak digubris, pihaknya melakukan aksi massa dalam gelombang yang banyak.
"Kalau somasi kami tidak digubris, masyarakat Kota Serang akan kami kerahkan. Tetap Masjid harus di Alun-alun," tukasnya. (Son/TN1)