Pernyataan Bupati Lebak Ditanggapi Sinis, FKMMN: Pantesan Lebak Selalu Tertinggal

Ratusan pemuda dan nelayan dari FKMMN, saat melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Lebak pekan kemarin. (Dok: TitikNOL)
Ratusan pemuda dan nelayan dari FKMMN, saat melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Lebak pekan kemarin. (Dok: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Pernyataan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya yang menuding adanya kepentingan bisnis dalam aksi ratusan pemuda dan nelayan di pendopo Bupati Lebak pekan kemarin, mendapatkan reaksi keras dari Forum Komunikasi Masyarakat Mandiri dan Nelayan (FKMMN).

Sekretaris FKMMN Aga Permana menilai, pernyataan yang disampaikan Bupati Lebak terkesan ingin melindungi oknum di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lebak, yang diduga melakukan tindakan Pungutan liar (Pungli) kepada nelayan di Binuangeun.

"Dia (Bupati, red) ingin melindungi oknum. Dia sendiri yang mengabaikan peraturan daerah yang dia buat," ujar Aga saat dikonfirmasi TitikNOL melalui sambungan telepon, Rabu (19/7/2017) malam.

Aga pun menanggapi sinis soal pernyataan Bupati Lebak yang mengklaim sudah menganalisa terlebih dahulu terkait maksud dari aksi di depan pendopo. Dirinya bahkan menuding Bupati Lebak tidak bertindak bijak dengan tidak menemui para pendemo.

"Di sini kita melihat Bupati tidak jentelman. Harusnya sebagai Bupati, dia mendatangi kami dan menanyakan langsung kepada kami soal masalah yang kami usung di aksi. Ini malahan menghindar," tegas Aga.

Menurut Aga, kalau Bupati Lebak ingin menegakan kebenaran, ada cara-cara elegan yang harus dilakukan. Salah satunya mengundang pihak-pihak terkait untuk duduk bersama dan menanyakan kepada kedua belah pihak terkait persoalan pungli di Binuangeun.

"Kalau ingin menegakan kebenaran, harusnya Bupati mengundang kita untuk duduk bersama. Debat publik pun kami siap bahkan disaksikan rekan media. Makanya kami tunggu keberanian Bupati mengundang kita," tambah Aga.

Baca juga: Bupati Lebak Sebut Demo Nelayan Ditunggangi Persaingan Usaha

Sementara terkait tudingan dari Bupati Lebak soal adanya persaingan bisnis dan upaya penggulingan Kepala TPI Binuangeun oleh para pendemo, menurut Aga menunjukan kebodohan dan ketidak cermatan Bupati dalam menanggapi sebuah persoalan.

"Kelihatan bodohnya (Bupati, red). Pantesan saja Lebak ini masih menjadi daerah tertinggal dan tidak maju dari dulu," sinisnya.

Aga pun mengaku akan terus memperjuangkan hak-hak para nelayan di Binuangeun, yang selama ini selalu menjadi korban kepentingan oknum yang tidak bertanggungjawab.

"Kami tidak akan lelah dalam memperjuangkan sesuatu yang benar. Aturan harus ditegakkan dan penikmat pungli nelayan harus bertanggungjawab. Kami akan terus perjuangkan ini hingga ke pusat," pungkasnya. (red)

Komentar