BANTEN, TitikNOL - Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Aris Adi Leksono mendukung moral dan keulamaan kepada Prof. Asep Saifuddin Chalim untuk menjadi Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke depan.
Dukungan tersebut disampaikan sebagai bagian dari ikhtiar jam‘iyyah dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan keulamaan NU yang berintegritas, mandiri, dan berakar kuat pada tradisi pesantren.
Aris menegaskan bahwa Prof Asep Saifuddin Chalim merupakan dzurriyah pendiri Nahdlatul Ulama, yakni putra dari KH. Abdul Chalim Leuwimunding, Majalengka.
Posisi historis tersebut dinilai melahirkan sense of belonging yang mendalam terhadap NU, sehingga menjadi modal moral penting dalam menjaga marwah, nilai, dan khidmah jam‘iyyah.
“Sebagai dzurriyah pendiri NU, Kiai Asep memiliki ikatan historis dan emosional yang kuat dengan jam‘iyyah. Ini bukan sekadar nasab, tetapi tanggung jawab moral yang melahirkan integritas, loyalitas, dan kesungguhan dalam mengabdi kepada NU,” katanya, Rabu (7/1/2026).
Selain itu, Prof Asep merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Jawa Timur, pesantren dengan puluhan ribu santri serta jaringan alumni yang tersebar di berbagai negara.
Menurut Pergunu, pesantren merupakan basis kultural NU, sehingga keberhasilan Prof Asep dalam mengelola pesantren modern yang tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam menjadi kekuatan strategis bagi NU ke depan.
“Pesantren adalah jantung NU. Pengalaman Kiai Asep dalam mengasuh dan membesarkan pesantren dengan jejaring global menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang relevan dengan tantangan NU di masa depan, tanpa meninggalkan khittah dan tradisi,” ucapnya.
Dari sisi kemandirian ekonomi, Prof Asep dikenal sebagai ulama dengan kapasitas ekonomi yang kuat dan sikap dermawan.
Pergunu menilai kemandirian tersebut penting agar kepemimpinan keulamaan NU tetap objektif, tidak mudah terpengaruh kepentingan pragmatis, serta fokus pada kemaslahatan umat dan pendidikan.
“Kemandirian ekonomi Kiai Asep memberi jaminan etik bahwa kepemimpinan keulamaan dapat dijalankan secara independen, penuh tanggung jawab, dan berpihak pada kemaslahatan jam‘iyyah,” tegasnya.
Pergunu juga mencatat kiprah kebangsaan Prof Asep yang mendapatkan pengakuan negara melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Narayana atas dedikasinya dalam memajukan pendidikan dan pesantren.
Di bidang akademik, Prof Asep merupakan tokoh pesantren yang meraih gelar guru besar, yang dikukuhkan di UIN Sunan Ampel Surabaya, serta tetap memiliki kedekatan dengan para kiai khos dan kiai kampung di berbagai lapisan NU.
“Perpaduan antara tradisi pesantren, kapasitas akademik, dan wawasan kebangsaan menjadikan Kiai Asep figur pemersatu yang dibutuhkan NU hari ini dan ke depan,” ungkapnya.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Pergunu memandang Prof Asep Saifuddin Chalim sebagai salah satu figur yang memiliki kapasitas keulamaan, keteladanan, dan pengalaman untuk menjaga marwah Rais ‘Aam PBNU serta memperkuat peran strategis Nahdlatul Ulama dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan.
"Pergunu menegaskan bahwa dukungan ini disampaikan dalam semangat musyawarah, keikhlasan, dan khidmah jam‘iyyah, serta tetap menghormati mekanisme dan tradisi organisasi Nahdlatul Ulama," tutupnya. (TN)