LEBAK, TitikNOL - Puluhan mahasiswa yang tergabung di Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) La Tansa Mashiro, menggelar aksi unjukrasa di depan pintu gerbang Kampus La Tansa Mashiro di Jalan Soekarno-Hatta, Pasir Jati Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (9/7/2020). Aksi unjukrasa dilakukan para mahasiswa untuk menagih janji pihak lembaga perguruan tinggi tersebut.
"Kita hadir di sini, atas dasar menagih janji lembaga hasil audiensi kita pada tanggal 18 Juni 2020 yang katanya akan memenuhi aspirasi kita. Makanya kita disini hadir untuk menagih janji lembaga," ujar Korlap aksi, Mustafid.
Menurutnya, aspirasi yang disampaikan para mahasiswa salah satunya ingin agar lembaga transparan soal alokasi dana kemahasiswaan.
"Yang kedua kita ingin lembaga ini menerapkan kebijakan yang di buat oleh KMA 515 tahun 2020 dan Permendikbud nomor 25 tahun 2020 tentang keringanan uang kuliah tunggal," tegas Mustafid.
Sebagai kaum intelektual dan kaum pergerakan lanjut Mustafid, sudah sewajarnya menjadi proses evaluasi bagi lembaga atau para petinggi yang mengendalikan system kampus.
Dengan kecerdasan mahasiswa, menjadi wajar jika kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak berpihak terhadap keadilan dan kesejahtraan.
Kata Mustafid, Kamis 18 juli 2020 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengatasnamakan Keluarga Besar Mahasiswa, telah menggelar audiensi dengan pihak kampus dalam rangka mengkritik kampus yang dirasa kurangnya transparansi soal kebijakan.
Selain itu, kurangnya perhatian serta keberpihakan dari perguruan tinggi kepada mahasiswa di masa pandemik, dan meminta perguruan tinggi memberikan pemotongan uang kuliah tunggal (UKT) uang semester.
Akan tetapi dijelaskan Mustafid, sampai saat ini tidak ada tindaklanjut dari Lembaga Perguruan Tinggi untuk merealisasikan tuntutan-tuntutan yang di sampaikan. Bahkan setelah keluarnya KMA 515 tahun 2020 dan Permendikbud no 25 tahun 2020 tentang keringanan uang kuliah tunggal.
"Dimasa pandemi ini tentu resesi ekonomi menjadi hal yang menakutkan, dan instabilitas perekonomian yang terjadi pada tatanan makro ekonomi sangat berdampak signifikan pada orang-orang menengah ke bawah. Mulai dari berkurangnya pendapatan untuk menyambung hidup, bahkan sampai berujung pada kasus kehilanagan pekerjaan,"papar Mustafid.
"Mahasiswa dipaksa untuk membayarkan UKT secara penuh dan sama sekali tidak menggunakan operasional atau fasilitas kampus. Namun sayangnya tidak berbanding lurus dengan kinerja kampus," tukas Korlap aksi ini menambahkan.
Hingga berita ini dilansir TitikNOL masih berupaya mendapatkan tanggapan dari pihak Kampus Latansa Mashiro. (Zal/TN1)