LEBAK, TitikNOL - Sejak dibukanya pendaftaran calon Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) oleh Panwaslu Kabupaten Lebak, ratusan pendaftar dari 28 kecamatan di Lebak sangat antusias untuk mendaftarkan diri menjadi Panwascam.
Para peserta calon Panwascam, diwajibkan mengikuti mekanisme penjaringan dengan mengikuti seleksi administratif, tes tertulis dan tes wawancara sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan tentang penyelenggaraan pemilu.
Namun, dalam proses rekrutmen Panwascam Kabupaten Lebak kali ini, muncul tudingan adanya nepotisme yang dilakukan oleh pihak Panwaslu Lebak. Selain soal tudingan terjadinya nepotisme, Panwaslu Lebak juga dituding telah melakukan kecurangan dan lebih mengutamakan kelompok tertentu.
Dikatakan Amir Mahpud, mantan aktivis HMI Kabupaten Lebak, rekrutmen Panwascam yang diselenggarakan oleh Panwaslu Lebak sarat dengan nepotisme.
"Karena setelah saya lakukan investigasi, rekrutmen Panwascam ini tidak transparan dan lebih mengutamakan kelompok tertentu juga orang-orang terdekat," ujar Amir di Rangkasbitung, Jumat (13/10/2017).
Menurut Amir, rekrutmen Panwascam Lebak kali ini sangat amburadul karena tidak sesuai dengan mekanisme yang semestinya.
"Hasil dari rekrutmen ini nilai tesnya tidak ditunjukan atau dicantumkan, kemudian waktu pelaksanaan setiap tes, peserta tes diperkenankan membawa Hanphone ke dalam ruangan dan yang lolosnya orang -orang terdekat. Pertanyaannya apa indikator kelulusan tes Panwas ini,?" tukas Amir.
Selain itu, Amir pun membeberkan salah satu indikasi kuat bahwa ada calon Panwascam yang lolos karena unsur kedekatan dan dugaan titipan serta kesamaan golongan.
"Indikasinya banyak terjadi kecurangan pada rekrutmen Panwascam seperti halnya salah satu peserta yang lolos berinisial SPN sebagai calon Panwascam Kalanganyar," beber Amir.
Terpisah, Odong Hudori, salah seorang Komisioner Panwaslu Kabupaten Lebak membantah tudingan terjadinya kecurangan dalam rekrutmen calon Panwascam Lebak.
"Indikatornya yang jelas penilaian tertinggi hasil tes tulis di kecamatan masing-masing," ujar Odong Hudori singkat.
Namun saat disinggung soal adanya peserta berinisial SPN yang lolos tes untuk menjadi Panwascam di Kecamatan Kalanganyar yang diduga karena kedekatan dan titipan, Odong Hudori pun menjawab dengan diplomatis.
"Dari pendaftar calon panwas sebagian besar kita mengenal, kan mereka rata-rata dari aktivis. Yang terpenting secara adminstrasi sesuai dengan aturan artinya dimana mereka daftar mereka - mereka harus membuktikan dengan KTP yang menjadi dasar dimana mereka tinggal," kilahnya. (Gun/red)