Sabtu, 5 April 2025

Mengenal Fenomena Hujan Es yang Sering Muncul di Indonesia

Ilustrasi. (Dok: Antaranews)
Ilustrasi. (Dok: Antaranews)

TitikNOL - Koordinator Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko menjelaskan fenomena hujan es atau hail merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem.

Dia mengatakan fenomena itu lebih banyak terjadi pada masa transisi atau musim pancaroba, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Hujan es juga dapat terjadi pada musim hujan dengan kondisi cuaca sama seperti masa transisi atau pancaroba.

"Fenomena hujan es atau hail merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrim," ujar Hary kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/3).

Hary menuturkan hujan es disebabkan oleh adanya awan Cumulonimbus (Cb). Terdapat 3 macam partikel di dalam awan itu, yakni butir air, butir air super dingin, dan partikel es. Sehingga, hujan lebat yang masih berupa partikel padat (es/hail) dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cb tersebut.

"Biasanya awan (Cb) berbentuk berlapis-lapis dan seperti bunga kol, di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam," ujarnya.

Hary mengatakan ada beberapa dalam proses pembentukan dan pertumbuhan awan CB. Pertama, adanya proses pergerakan massa udara naik dan turun yang sangat kuat, dikenal dengan istilah Strong Updraft and Downdraft di dalam awan CB.

Pergerakan massa udara naik atau Updraft yang cukup kuat di dalam awan CB dapat membawa uap air naik hingga mencapai ketinggian dan membuat suhu udara menjadi sangat dingin hingga uap air membeku menjadi partikel es.

Partikel es dan partikel air super dingin itu kemudian akan bercampur dan teraduk-aduk akibat proses updraft dan downdraft hingga membentuk butiran es yang semakin membesar.

Ketika butiran es sudah terlalu besar maka pergerakan massa udara naik tersebut tidak akan mampu lagi mengangkatnya sehingga butiran es akan jatuh ke permukaan bumi menjadi hail atau hujan es.

"Strong updraft di suatu daerah dapat terbentuk dan terjadi akibat adanya pemanasan matahari yang intens (pemanasannya sangat optimal atau kuat) antara pagi hingga siang hari dan dapat juga dipengaruhi oleh topografi suatu daerah," ujar Hary.

Kedua, Hary berkata adanya lapisan dengan tingkat pembekuan yang lebih rendah, dikenal dengan istilah Lower Freezing Level. Pada fenomena hujan es, lapisan tingkat pembekuan (freezing level) mempunyai kecenderungan turun lebih rendah dari ketinggian normalnya.

"Hal inilah menyebabkan butiran es yang jatuh ke permukaan bumi tidak mencair sempurna," ujarnya.

Lapisan tingkat pembekuan, lanjut Hary merupakan lapisan pada ketinggian tertentu di atas permukaan bumi dimana suhu udara bernilai nol derajat celsius. Pada ketinggian itu, butiran air umumnya akan membeku menjadi partikel es.

Di Indonesia, kata dia umumnya lapisan tingkat pembekuan berada pada kisaran ketinggian antara 4 sampai 5 km di atas permukaan laut.

Sifat fenomena hujan es

Hary membeberkan hujan es bersifat sangat lokal, dengan keluasan berkisar 5 sampai 10 km. Kemudian, hujan es terjadi dalam waktu singkat, sekitar 10 menit.

Hujan es, kata Hary juga lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba), dapat dimungkinkan terjadi pada musim hujan dengan kondisi cuaca sama seperti masa transisi atau pancaroba.

Kemudian, hujan es lebih sering terjadi antara siang dan sore hari. Dia mengaku, hujan es tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0.5 sampai 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan < 50 persen.

Hary menambahkan hujan es hanya berasal dari awan Cb, tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan hujan es.

Lebih dari itu, kemungkinan hujan terjadi kembali di tempat yang sama dan dalam waktu yang singkat terbilang kecil.

Kepala Stasiun BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas menuturkan hujan es terjadi akibat pertumbuhan awan cumulonimbus hingga puncak awan sangat tinggi. Puncak awan yang tinggi ini lantas menyentuh atmosfer hingga ke titik beku. Akibatnya, terbentuk kristal es di awan dengan ukuran cukup besar.

Saat awan cumulonimbus sudah jenuh dan tak mampu lagi menahan beban uap air, maka akan terjadi hujan lebat disertai es.

"Es yang turun ini bergesekan dengan udara (atmosfer) saat jatuh (ke Bumi) sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya mengecil," lanjutnya.

Berita ini telah tayang di cnnindonesia.com, dengan judul: Mengenal Fenomena Hujan Es yang Semakin Sering Muncul di RI

Komentar