Artis Kawakan Hollywood Singgung Polusi Udara di Kota Cilegon Lewat IG

Leonardo Dicaprio. (Dok: Okezone)
Leonardo Dicaprio. (Dok: Okezone)

CILEGON, TitikNOL – Aktor Leonardo Dicaprio menyoroti polusi udara di Kota Cilegon, Provinsi Banten, melalui postingan sebuah foto di akun resmi media sosial instagram miliknya yang berlatar belakang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya.

Keterangan yang disisipkan pada foto itu yang diposting aktor ternama asal Amerika Serikat itu, menyoroti persoalan pencemaran udara yang diakibatkan oleh pembakaran dari bahan bakar fosil.

"Kerugian akibat polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil berdampak pada ekonomi dan kesehatan, jumlahnya mencapai USD 2,9 pada 2018. Menurut sebuah laporan baru, kematian dini dan hilangnya nyawa terjadi selama bertahun-tahun dihitung dalam bentuk absen kerja. Biaya yang dikeluarkan mencapai 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) global," tulis Leonardo Dicaprio dalam unggahan akun instagramnya @leonardodicaprio, Jumat (28/2/2020).

Penelitian tersebut, lanjut Leonardo, menghitung secara global polusi udara yang diakibatkan pembakaran dari bahan bakar fosil. PLTU Suaralaya diketahui menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik.

"Penelitian ini, yang pertama fokus pada dampak global polusi udara yang disebabkan oleh pembakaran dari bahan bakar fosil yang berfokus pada dampak kesehatan dari tiga jenis polutan tertentu: Nitrogen dioksida, ozon, dan bahan partikel halus. Hal itu juga mencakup rincian regional dampak polusi udara," jelas aktor yang dikenal peduli lingkungan ini.

Hasil yang didapat para peneliti adalah kematian dini akibat pokusi udara yang berkaitan dengan bahan bakar fosil pada 2018 terjadi di Cina daratan 1,8 juta orang, India 1 juta orang, dan Amerika Serikat 230.000 orang.

"Akibatnya, ketiga negara itu juga menghadapi biaya tahunan tertinggi: USD 900 miliar di Cina, USD 600 miliar di AS, dan USD 150 miliar di India," ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Andi Rana, membenarkan kualitas udara di Kota Cilegon tiap tahun semakin menurun. Penurunan itu disebabkan dua faktor yakni transportasi dan industri.

"Iya betul, jadi memang ada penurunan kualitas udara dan faktornya tidak hanya dari industri ya tapi dari transportasi juga. Jadi sekarang di dalam kota pun nilai SO2-nya tinggi," ungkapnya, Jumat (28/2/2020).

Hampir seluruh industri padat modal di Kota Cilegon menggunakan batu bara untuk mengoperasikam mesin produksi. Terlebih, kata dia pembangkit yang mengalirkan listrik ke industri.

"Rata-rata pakai (bahan bakar) fosil, di sini jarang yang pakai gas. KS (Krakatau Steel) batu bara, Chandra Asri dia pakai listril. Yang pakai batu bara rata-rata pembangkitnya kayak Asahimas pembakit PLTU-nya pakai batu bara. Pabrik gula di Ciwandan boilernya pakai batu bara. IP (Indonesia Power) 1-7 Suralaya pakai batu bara," jelasnya. (Ardi/TN1).

Komentar