TitikNOL - Kementerian Kesehatan memprediksi kasus penularan Omicron bakal terjadi pada Februari hingga awal Maret.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penularan kasus Omicron dihampir seluruh dunia berkisar antara 35 hingga 65 hari. Penularan itu termasuk dalam kategori cepat.
Di Indonesia, pihaknya mengidentifikasi kasus pertama pada pertengahan Desember, tapi kasus mulai naiknya di awal Januari.
"Kita hitung antara 35-65 hari akan terjadi kenaikan yang cukup cepat dan tinggi. Itu yang memang harus dipersiapkan oleh masyarakat," katanya melalui rilis, Kamis (20/1/2022).
Ia menuturkan, wilayah DKI Jakarta dan Bodetabek diperkirakan menjadi daerah pertama yang akan mengalami lonjakan kasus. Mengingat, mayoritas transmisi lokal varian Omicron terjadi di DKI Jakarta.
Kemudian dalam waktu dekat juga akan meluas ke wilayah Bodetabek, karena secara geografis daerah-daerah tersebut berdekatan dan mobilitas masyarakatnya sangat tinggi.
"'Kami juga sampaikan bahwa lebih dari 90 persen transmisi lokal terjadi di DKI Jakarta, jadi kita harus siapkan khusus DKI Jakarta sebagai medan perang pertama menghadapi varian Omicron, dan kita harus sudah memastikan bisa menangani dengan baik," terangnya.
Pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan kegiatan surveilans. Sehingga diharapkan, penemuan kasus bisa dilakukan sedini mungkin untuk di isolasi.
Untuk menjaganya, Menkes mengimbau kepada masyarakat agar disiplin menjalankan prokes.
Di sisi lain, vaksinasi booster juga akan menjadi fokus pemerintah. Cakupan vaksinasi booster di wilayah Jabodetak akan dikebut untuk meningkatkan dan mempertahankan kekebalan tubuh dari ancaman penularan varian Omicron.
"'Selain prokes dan surveilans, juga dipastikan semua rakyat DKI Jakarta dan Bodetabek akan dipercepat vaksinasi boosternya agar mereka siap kalau gelombang Omicron nanti naik secara cepat dan tinggi," tutupnya. (TN3)