Jum`at, 4 April 2025

Waspada Bahaya Merkuri, Konsumsi Ikan Tidak Selamanya Sehat

Ilustrasi ikan. (Dok: prodgid)
Ilustrasi ikan. (Dok: prodgid)

TitikNOL - Walaupun menjadi bagian penting dari pola makan sehat, sebagian jenis ikan ternyataberkemungkinan mengandung merkuri dalam kadar tinggi yang dapat berbahaya bagi kesehatan.

WHO menyatakan merkuri sebagai salah satu dari 10 bahan kimia peringkat teratas yang menyebabkan gangguan kesehatan. Merkuri sendiri adalah bahan yang secara alami terdapat di tanah, air, dan udara. Merkuri yang terdapat pada udara (yang berasal dari asap pembakaran pabrik) akhirnya akan mengendap dalam air. Kandungan merkuri di dalam air inilah yang kemudian akan menumpuk di ikan, hewan pemakan ikan dan kerang yang kemudian dikonsumsi manusia.

Ikan Berjenis Tertentu Lebih Banyak Mengandung Merkuri

Banyak orang tidak menyadari bahaya merkuri yang terkandung di dalam ikan ini. Methylmercury adalah bentuk merkuri yang sangat beracun yang terkandung di dalam hewan, termasuk ikan yang biasa dikonsumsi manusia. Timbunan merkuri inilah yang menyebabkan ikan dan kerang menjadi sangat beracun untuk dikonsumsi. Sebagian jenis ikan lebih banyak mengandung methylmercury dibandingkan yang lain, tergantung kepada:

Usia ikan.

Kedudukannya di rantai makanan.

Apa yang mereka makan.

Dalam kadar tinggi, pajanan merkuri ini dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh, paru-paru, jantung, ginjal, serta otak. Pada janin, bayi, dan anak kecil, paparan metyhilmercury pada pembuluh darah dapat menyerang sistem saraf sehingga menurunkan kemampuan mereka belajar dan berpikir. Oleh karena itu, kelompok wanita yang ingin hamil, ibu hamil dan ibu menyusui harus mengetahui informasi tipe ikan yang mereka konsumsi.

Bahaya merkuri pada manusia, terutama keracunan methylmercury, dapat dikenali dari tanda-tanda di bawah ini.

Penurunan koordinasi anggota tubuh.

Otot lemas.

Gangguan pada sistem indera perasa .

Gangguan pada penglihatan perifer (lapang pandang samping).

Ketidakmampuan berjalan, mendengar, dan berbicara.

Tinggi atau rendahnya efek kesehatan yang diakibatkan oleh merkuri ini tergantung kepada beberapa faktor, seperti dosis merkuri, bentuk bahan kimia merkuri yang dikonsumsi, usia pengonsumsi ikan, serta kondisi kesehatannya.

Tragedi Minamata di Jepang adalah salah satu contoh kasus keracunan merkuri atau merkurialisme atau hidrargria paling berbahaya di dalam sejarah.

Merkuri yang termetilasi oleh bakteri kemudian dicerna oleh ikan. Orang yang mengonsumsi ikan-ikan bermerkuri ini kemudian mengalami gangguan saraf, seperti kehilangan pendengaran dan/atau penglihatan. Gangguan terparah dialami oleh janin. Keracunan merkuri ini dapat didiagnosis dari analisis rambut ataupun tes darah lengkap. Pemeriksaan pada urine juga dapat dilakukan walaupun tes ini kurang dapat diandalkan dibandingkan dua tes sebelumnya.

Mengurangi Risiko Bahaya Merkuri

Ikan tetap menjadi bagian penting dalam pola makan sehat. Ikan dan kerang mengandung nutrisi dan protein dalam kadar tinggi, sekaligus asam lemak omega-3 dan kadar lemak jenuh yang rendah. Ini membuat ikan menjadi bahan makanan ideal untuk kesehatan jantung dan pertumbuhan tubuh. Meski begitu, pemilihan ikan untuk dikonsumsi juga perlu diperhatikan.

Saat seseorang mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri, racun tersebut tidak berhenti mengendap di tubuhnya. Merkuri dalam ikan yang dikonsumsi manusia kemudian akan keluar dari tubuh melalui ASI, urine, atau tinja. Namun merkuri dalam kadar tinggi yang terkandung di tubuh membutuhkan setidaknya setahun hingga tubuh bersih dari kandungan bahan kimia tersebut sejak konsumsi ikan dihentikan.

Faktanya, semua manusia pasti terpajan merkuri dalam kadar yang berbeda-beda karena hampir semua ikan dan kerang mengandung jejak-jejak merkuri. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi konsumsi makanan yang diduga mengandung bahan ini.

Hindari atau batasi konsumsi ikan yang berpotensi mengandung merkuri dalam kadar tinggi. Makarel, tuna putih/albacore, hiu, dan todak adalah sebagian jenis ikan yang dapat mengandung merkuri berkadar tinggi. Sebagian ikan ini digunakan sebagai bahan dasar hidangan sushi. Ikan-ikan ini dapat berasal dari laut, sungai, maupun danau di sekitar lingkungan tempat tinggal. Di Jepang, konsumsi ikan paus dan lumba-lumba kerap menjadi kasus keracunan sebagaimana kedua jenis ikan tersebut mengandung merkuri dalam kadar tinggi.

Konsumsi ikan atau boga bahari lain dengan kandungan merkuri lebih rendah, seperti ikan tuna kaleng, udang, salmon, kod, tilapia, lele, lebih direkomendasikan. Untuk memenuhi kebutuhan protein, Anda dapat mengonsumsi setidaknya 200-350 gram ikan jenis ini terbagi dalam 2-3 porsi seminggu. Tidak kalah penting, batasi atau hindari konsumsi ikan mentah, terutama untuk ibu hamil.

Sumber: www.alodokter.com

Komentar