Minggu, 6 April 2025

Diangkat dari Cerpen, Seniman Banten Akan Pentaskan Muara Karuhun 

Poster pementasan Muara Karuhun (Foto: Istimewa)
Poster pementasan Muara Karuhun (Foto: Istimewa)

SERANG, TitikNOL - Komunitas Kembali akan menggelar pertunjukkan berjudul Muara Karuhun. Pentas teater kali ini tercipta berkat kolaborasi dengan beberapa penggiat seni berbagai bidang, seperti ilustrator, musisi, dan pegiat teater kampus.

Menurut sutradara Imaf M Liwa, Muara Karuhun merupakan pertunjukan alih wahana dari cerpen karya Farid Ibnu Wahid yang terinspirasi dari cerita rakyat dan toponimi dari Desa Muara, wilayah Kabupaten Lebak, Banten.

"Pertunjukan Muara Karuhun akan menceritakan muatan lokal berupa mitos yang memiliki nilai ajaran hidup dalam berhubungan baik dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, pertunjukan ini akan menyuguhkan beberapa dialog dalam berbahasa Sunda," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima wartwan, Selasa (1/2/2022).

Muara Karuhun digarap dengan pendekatan teater eksperimentatif-inovatif. Pertunjukan ini akan tergambarkan dengan beberapa elemen pertunjukan, seperti monolog, gerak, musik, ilustrasi, dan video pemetaan (mapping).

Mengenai cerita rakyat yang menjadi spirit pertunjukkan Muara Karuhun, Imaf menyebutkan Indonesia memiliki beragam budaya di setiap wilayahnya. Salah satu keragaman tersebut ialah cerita rakyat yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun kepada generasi di setiap daerah di Indonesia.

"Cerita rakyat ini berbentuk toponimi. Toponimi adalah cabang onomastika yang menyelidiki asal usul nama tempat. Toponimi ini termasuk sastra lisan yang memiliki beragam nilai ajaran hidup. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, nilai-nilai tersebut sudah bergeser makna dan 'berjarak' dengan masyarakat saat ini, walaupun tidak semuanya,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini cerita rakyat dan dongeng-dongeng yang bernilai sastra seperti ditinggalkan. Oleh karena itu, pihaknya akan memperkenalkan kembali dan mengajak masyarakat untuk berdekatan dengan cerita rakyat (toponimi) yang dialihwahanakan dalam bentuk seni pertunjukan teater yang berjudul Muara Karuhun.

Ia dan seluruh anggota Komunitas Kembali berharap pertunjukan tersebut dapat menjadi salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan sastra lisan.

Selain itu untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan, mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan (alam), meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku nonkoruptif.

"Kami mengundang kepada publik, baik pelajar, budayawan, cendikiawan, wartawan, pejabat publik maupun masyarakat umum untuk membeli tiket pertunjukan dan hadir mengapresiasi pertunjukan," ujarnya.

Pertunjukkan Muara Karuhun akan dipentaskan dua sesi. Sesi-1 pukul: 14.00 WIB dan sesi-2 pukul: 19:30 WIB tanggal 21 dan 22 Februari 2022 di Gedung Auditorium Surosowan Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam Nomor 40, Ciloang, Sumurpecung, Serang-Banten.

Imaf menambahkan, pertunjukan tersebut akan pentaskelilingkan ke beberapa daerah, seperti Serang, Cilegon, Warung Gunung (Lebak), dan akan dipentaskan di beberapa sekolah.

Perlu diketahui, sebelumnya Komunitas Kembali juga telah mementaskan ID berupa pertunjukan kolaborasi bersama masyarakat Jawilan, Serang-Banten tahun 2017 silam.

Tebah, Tabuh, Tabah pertunjkan kolaborasi bersama kelompok kesenian tradisi terbang gembrung, masyarakat Cikentang, Serang-Banten tahun 2018, KITA program kembali ke sekolah, pentas keliling dibeberapa sekolah yang ada di provinsi Banten tahun 2018.

Pementasan Mundingan adaptasi novel Max Havelaar karya Multatuli partisipasi dalam Festival Seni Multatuli tahun 2018, Adang sebagai Teater dan Ketahanan Pangan kolaborasi bersama masyarakat Kesabilan, Serang Banten tahun 2021. (TN3)

Komentar