TitikNOL - Sangat ngeri membayangkan apabila ada anak-anak yang menjadi korban kejahatan para pedofil. Lebih ngeri lagi tentu jika sampai ada keluarga yang mengidap pedofilia ini. Belakangan kasus tersebut kembali mengemuka setelah sebuah grup di jejaring sosial terungkap, berisi sekelompok pelaku yang kerap menggarap korban mereka berikut foto dan video menjijikkan tentang hal tersebut.
Pedofilia sendiri secara definisi adalah kelainan psikoseksual yang dialami orang yang lebih dewasa terhadap anak-anak praremaja. Mereka memiliki preferensi seksual atau kepuasan seksual dengan anak-anak.
Seseorang tentu tidak secara tiba-tiba menjadi pedofil. Ada pemicu dan penyebab gangguan mental itu terjadi. Beberapa negara bahkan memasukkan pedofil sebagai kejahatan pidana dan pelakunya akan dihukum berat.
Berikut ini beberapa kemungkinan pemicu seseorang bisa menjadi pedofil berdasarkan teori-teori psikologi, seperti dilansir laman Health Kompas:
Kelainan otak
Ahli menyebut ada perbedaan dalam struktur otak pedofil dengan orang normal. Bagian yang berbeda itu ada di frontocortical, jumlah materi abu-abu, unilateral, bilateral lobus frontal dan lobus temporal dan cerebellar. Penyebabnya bisa akibat traumatis, terjadi secara alami dan penyebab lain.
Perbedaan neurologis
Tingkat kecerdasannya cenderung lebih rendah. Makin rendah kecerdasan pelaku maka makin muda korban yang ia suka.
Juga disinyalir ada kemungkinan mereka mengalami luka kepala serius saat usia dibawah enam tahun.
Banyak pedofil yang miliki ibu dengan penyakit kejiwaan, dikatakan oleh studi Hall & Hall.
Beberapa juga mengalami kelainan kromosom, salah satunya adalah punya kromosom X tambahan.
Faktor lingkungan
Beberapa teori menyebut bahwa pedofil pernah mengalami pelecehan seksual saat kecil. Secara umum kasus terungkap memang membenarkan teori tersebut. Studi Hall & Hall menyebut itu kejadian traumatis di awal kehidupan sehingga memicu kelainan perkembangan otak.
Masalah tumbuh kembang
Studi Hall & Hall, 2007 menyebut bahwa 61 persen pedofil pernah tidak naik kelas. Sebagian juga masuk sekolah anak berkebutuhan khusus.
Studi Lanyon tahun 1986 menyebut bahwa ada kemungkinan trauma masa kecil membuat mereka mengalami kelambatan pertumbuhan kognitif. Alhasil mereka hanya bisa berfantasi dengan anak-anak.
Sumber: www.sidomi.com