Sabtu, 5 April 2025

Menaker Sebut Ada 3 Juta Warga Hilang Penghasilan Akibat Covid-19

Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziyah. (Foto: TitikNOL)
Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziyah. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziyah menyebutkan, banyak warga yang kehilangan pendapatan akibat terdampak Covid-19.

Pasalnya, serangan pandemi Covid 19 tidak hanya berpengaruh pada sektor kesehatan dan perekonomian, tapi yang paling kuat berpengatuh pada sektor ketenagakerjaan. Akibatnya, ada 3 juta lebih warga yang kehilangan mata pencaharian karena di rumahkan dan di PHK.

"Covid menyebabkan 1,7 juta di PHK terutama yang kerja di sektor informal. Ada 1,3 juta yang dirumahkan. Kurang lebih dampak ada 3 juta lebih yang tidak memiliki pendapatan sama sekali," katanya saat memberikan sambutan di pelatihan BBLK Serang, Selasa (21/7/2020).

Ia menuturkan, berdasarkan data BPS per-Februari 2020, pengangguran terbuka berada diangka 6,8 juta. Secara nasional, angka itu mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang berada diangka 7,5 juta.

Namun hal itu mengejutkan semua pihak. Karena sebelumnya, Pemerintah tidak pernah berpikir wabah yang berasal dari Wuhan, China itu akan sampai kepada Negara Indonesia. Bahkan, pandemi tersebut menyerang 112 negara di dunia.

"Ketenagakerjaan masih masalah di negeri kita, kondisi angkatan kerja yang dirilis BPS Februari 2020, tingakt pengangguran terbuka masih 6,8 juta. Berarti masih 4,9 juta yang belum mendapat kesempatan bekerja. Dibandingkan dengan 2019 turun, 7,5 juta," tuturnya.

Namun saat ini menurut Ida, pemerintah sedang konsisten dan berupaya dalam menangani dampak Covid 19. Anggaran sebanyak Rp635,2 triliun dialokasikan untuk penyelesaian baik krisis kesehatan maupun perekonomian.

"Pemerintah tidak konsen pada kesehatan saja, pemerintah berupaya menyelesaikan dampak covid 19 itu. Secara paralel dilakukan penanganan Rp635,2 triliun dialokasikan untuk penyelesaian baik krisis kesehatan atau dampak covid 19," jelasnya.

Meski di tengah guncangan pandemi, ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dan produktivitas kinerja harus berjalan terus dengan menggunakan protokol kesehatan. Sebab hingga kini, WHO belum tahu serangan virus Corona akan berakhir.

"Kegiatan pada peningkatan kompetensi harus jalan terus, kami tidak mungkin berhenti berkegiatan, berproduktif. WHO tidak tahu sampai kapan ini berakhir, maka harus meningkatan kompetensi dengan protokol kesehatan," tukasnya. (Son/TN1)

Komentar