Jum`at, 4 April 2025

Refleksi Hari Santri, Komunitas Jejaka Cilegon Ajak Masyarakat Kaji Manuskrip Peninggalan Intelektual Banten

Ketua Komunitas Jejaka Cilegon, Saiful Iskandar saat sambutan di kegiatan Seminar dan Workshop manuskrip abad 18-19
Ketua Komunitas Jejaka Cilegon, Saiful Iskandar saat sambutan di kegiatan Seminar dan Workshop manuskrip abad 18-19

CILEGON, TitikNOL - Komunitas Jejak Sejarah Budaya Karuhun (Jejaka) Cilegon menjadi inisiator seminar dan workshop mengkaji manuskrip peninggalan nenek moyang.

Kegiatan itu digelar di Ponpes Banu Al-Qomar, Kota Cilegon dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

Para peserta yang didominasi santri dan mahasiswa tersebut sangat antusias dalam mempelajari tulisan dan makna di dalam manuskrip.

Ketua Komunitas Jejaka Cilegon, Saiful Iskandar mengatakan, seminar dan workshop manuskrip abad 18-18 langkah awal memperkenalkan kepada kaum terdidik.

Mengingat, manuskrip benda warisan yang jarang dikaji oleh masyarakat luas. Padahal isinya dapat bermanfaat bagi kehidupan sosial karena pembahasannya mengandung ilmu pengetahuan.

"Terkait seminar sebenarnya langkah awal mengenalkan manuskrip kepada siswa dan mahasiswa," katanya, Sabtu (21/10/2023).

Ia menerangkan, salah satu faktor generasi muda tidak bisa mengkaji manuskrip lantaran bahasanya dari pegon.

Untuk itu, dalam kegiatan saat ini peserta diajarkan aksara agar bisa membaca manuskrip dan memahami maknanya.

"Kita menggali lagi, ada aksara babad nanti dan digitalisasi mengelola manuskrip. Masyarakat masih enggan mengeluarkan manuskrip, maka dengan seminar ini masyarakat lebih mudah mengkaji manuskrip lagi," terangnya.

Saiful menjelaskan, manuskrip salah satu bukti tumbuhnya literasi pada abad 18-19. Sehingga dalam refleksi Hari Santri Nasional ini, pihaknya berharap peserta dapat meningkatkan budaya literasi.

"Manuskrip tidak lepas dari santri. Saya berharap santri lebih mendalami lagi warisan intelektual Banten," jelasnya.

Di tempat yang sama, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah DKI Jakarta dan Banten, Juliyadi menuturkan, manuskrip belum banyak dikaji masyarakat umum. Sehingga hanya dijadikan benda cagar budaya.

"Manuskrip belum banyak tersentuh. Kalau tidak ada penerusnya, bisa hanya sekedar cagar budaya," paparnya.

Menurutnya, yang paling penting dalam manuskrip adalah nilai atau maknanya. Karena selama ini tulisan yang paling terkenal karangan Syekh Nawawi Al-Bantani.

"Tapi isinya dan maknanya tidak terungkap. Padahal nilai intrinsik dan ekstrinsik harus diketahui. Tulisannya ini yang harus diketahui, maknanya jangan terlewatkan," ucapnya.

Kabid Kebudayaan Dindikbud Cilegon, Tini Suswati menambahkan, manuskrip banyak tersimpan di beberapa pesantren karena telah ada di Abad 19.

"Pada Ponpes inilah manuskrip yang sudah berusia ratusan tahun sudah ada. Bahkan ada ratusan kitab yang ditulis ulama yang ikut Geger Cilegon dan tersimpan dengan baik," tambahnya.

Untuk menyelematkannya, manuskrip perlu dikaji, diketahui maknanya hingga disebarluaskan kepada masyarakat.

"Menyelematkan manuskrip agar dipelajari, diketahui dan disebarluaskan. Jadi tidak hanya santri, tapi masyarakat luas. Seperti salah satu utama yang terkenal Babad Banten," tutupnya. (Son/TN3)

Komentar