Jelang Pilgub Banten 2017

Apresiasi Media di Banten, Rano Karno Ajak Pers Pegang Teguh Etika Jurnalistik

Calon Gubernur Banten Rano Karno saat dirinya menggelar diskusi terbatas bersama para pewarta di Tangerang, Kamis (1/12/2016) kemarin. (Foto: Ist)Calon Gubernur Banten Rano Karno saat dirinya menggelar diskusi terbatas bersama para pewarta di Tangerang, Kamis (1/12/2016) kemarin. (Foto: Ist)

SERANG, TitikNOL - Calon Gubernur Banten nomor urut dua Rano Karno, mengapresiasi kinerja media dan pewarta di Provinsi Banten. Apresiasi itu disampaikan langsung, saat dirinya menggelar diskusi terbatas bersama para pewarta di Tangerang, Kamis (1/12/2016) kemarin.

"Media massa sebagai partner yang memberikan kontribusi positif terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat, "kata Rano.

Menurut Rano, jika media selama ini selalu berdampingan dan mengkritik terhadap pembangunan di Banten dan hal tersebut tidak boleh dilihat sebagai beban. Tapi sebaliknya, sebagai kebutuhan yang harus hadir agar penyelenggaraan pemerintahan bisa diawasi.

"Media itu pilar demokrasi. Tidak perlu alergi dengan kritik dan pengawasan. Media massa adalah instrumen yang bisa menghubungkan kita dengan kegelisahan yang berkembang di tengah masyarakat," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Rano juga sempat mengutip kode etik jurnalistik bagi para wartawan di Indonesia. Ia menyebut pemberitaan di media sepatutnya akurat, berimbang dan tak beritikad buruk.

Menanggapi pernyataan Rano Karno, dalam kesempatan berbeda Aditya Perdana, dosen ilmu politik UI menyatakan, pers harus aktif dalam menyuarakan kegelisahan rakyat.

Dirinya juga berharap, pers jangan sampai dikooptasi seperti masa lalu dan mendudukan posisi pers sebagai corong kepentingan politik.

"Di era demokrasi seperti sekarang demokrasi tak jarang dibajak oleh sejumlah kalangan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena setiap redaksi memiliki kebijakannya sendiri-sendiri yang bersifat independen dan mandiri. Akan tetapi sangat disayangkan apabila ada pers yang semestinya menjadi pilar demokrasi justru berkolaborasi dengan kekuatan politik yang tak berpihak pada kepentingan rakyat," tukasnya.

Secara khusus Aditya juga menyoroti tanggung jawab media untuk mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan. "Jangan sampai berita yang muncul di media itu berangkat dari dusta, kebohongan, dan fitnah. Jangan sampai ada wartawan mengabaikan etika dan kepatutan. Wartawan itu profesi profetik yang memperjuangkan kenyataan, bukanPenyebar kebohongan," pungkasnya. (Meghat/red)

Komentar