Kesuksesan Film 'Wonder Woman' Ternyata Ada Campur Tangan Pria Indonesia

Patty Jenkins dan Gal Gadot saat membahas sebuah adegan di set Wonder Woman. (Dok: pinterest)
Patty Jenkins dan Gal Gadot saat membahas sebuah adegan di set Wonder Woman. (Dok: pinterest)

TitikNOL - Wonder Woman menjadi film tersukses bagi Warner Bros. tahun ini. Tak diduga, ada tangan orang Indonesia yang ikut menyukseskan film yang dibintangi Gal Gadot itu.

Adalah Samuel Simanjuntak, pemuda berdarah Batak tapi kelahiran Tangerang, yang namanya ikut dicatat IMDb sebagai kru Wonder Woman. Pria 31 tahun itu menjadi environment technical director dari sebuah perusahaan efek visual yang digandeng Warner Bros, MPC.

Tugasnya mengganti latar syuting dengan lingkungan yang diinginkan. Bisa menambahkannya, bisa juga benar-benar menggantinya karena gambar diambil dengan latar green screen.

“Ada adegan di pantai yang waktu mereka perang sama Jerman, nah itu [kerjaan saya]. Di film kan kelihatan ada tebing, pulau-pulau. Pas syuting itu tidak ada. Saya yang mengerjakan bagian itu,” ceritanya saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ia juga kebagian memberi ‘tempelan’ latar untuk adegan di pulau tanpa pria, kampung halaman Wonder Woman, dan mengganti wajah stuntman di adegan berbahaya dengan wajah Gadot.

Diakui Samuel, keterlibatannya di Wonder Woman berawal dari perusahaan tempatnya bekerja yang ‘menang tender’ penggarapan efek visual film yang disutradarai Patty Jenkins itu.

“Saya mulai join Mei atau Juni tahun lalu, baru selesai Maret kemarin,” tuturnya.

Usai itu, ia berlibur ke Indonesia dan menonton filmnya di Tangerang. Biasanya, kata Samuel, ada undangan premier untuk kru film. Tapi ia tak selalu datang. Kali ini, sekalian berlibur ke Indonesia, ia sekalian menonton film yang digarapnya bersama keluarga.

“Tapi waktu di bioskop enggak tunjuk-tunjuk, nanti dimarahi, kan yang lain juga mau nonton. Tapi di luar saya kasih tahu, bagian mana yang digarap,” ia bercerita.

Samuel bisa dibilang beruntung bekerja untuk MPC, perusahaan khusus efek visual yang berbasis di Montreal. MPC banyak menggarap film besar. Film besar pertama yang digarap Samuel, tak tanggung-tanggung, adalah X-Men: Days of Future Past milik Marvel.

Awalnya, ia mengaku gugup. “Pertama-tama saya berpikir, bisa enggak ya. Apalagi talent dari luar kan banyak. Saya merasa agak takut untuk bersaing,” ia mengungkapkan. Tapi setelah menjalani, Samuel tahu ia bisa melakukannya. “Oh gini doang,” ia berseloroh.

Setelah Days of Future Past, ia juga berkesempatan menggarap Cinderella, Pan, lalu Martian, Tarzan, X-Men: Apocalypse, dan satu scene di Suicide Squad. Setelah itu, baru Wonder Woman. Saat ini Samuel sedang mengerjakan film besar, namun tak mau membocorkannya.

“Yang jelas ada Johnny Depp,” ia mengatakan.

Berawal dari Jurassic Park & Toy Story

‘Pengembaraan’ Samuel di film Hollywood sejatinya berawal dari ketertarikan di bidang efek visual. Sejak kecil ia suka menonton film dengan efek khusus seperti Jurassic Park dan Toy Story. Baru saat kuliah, ia tahu bahwa itu dibikin dengan komputer dan bisa dipelajari.

Meski saat kuliah mengambil jurusan Teknik Informatika di Binus, Samuel juga belajar membuat efek tiga dimensi dan visual lainnya. Kebetulan ia juga tertarik pada disain grafis. Lulus dari Binus, ia lalu melanjutkan pendidikan soal efek visual ke Kanada.

Di Vancouver, usai pendidikannya selesai, ia melamar ke beberapa pekerjaan.

“Awal-awal memang enggak gampang. Di Kanada kan rata-rata pendatang yang tujuannya kerja di bidang itu, karena efek visual paling besar saat ini di Kanada. Jadi banyak orang yang cari kerja di sini dan persaingannya ketat,” ceritanya, yang saat ini menetap di Montreal.

Dalam ‘perjalanannya’ menuju posisi yang sekarang, Samuel banyak menemukan teman yang harus pulang kampung karena gagal mencari kerja di Kanada. Beruntung, ia dapat pekerjaan di sebuah perusahaan efek visual di Vancouver. Tak lama, ia ditawari MPC di Montreal.

Sejak 2012 ia pun menetap di sana bersama istri dan anaknya.

Bidang Teknik Informatika yang dipelajarinya saat kuliah, diakui Samuel, sangat membantu.

Sejauh ini, Samuel tidak merasakan tekanan yang terlalu besar meski ia bekerja dengan orang asing. “Suasana kerjanya baik-baik saja, tergantung supervisor, ada yang terlalu detail, tapi ada juga yang santai. Enggak marah-marah juga sih,” ia bercerita.

Biasanya ia hanya bertemu dengan supervisor yang membawahinya di kantor. Jarang bertatap muka langsung dengan pemain film yang tengah digarapnya. “Pernah sekali ketemu Bryan Singer, sama supervisor efek visualnya,” katanya. Singer merupakan sutradara yang menggarap X-Men: Days of Future Past dan X-Men: Apocalypse, yang memang dikerjakan Samuel.

Dengan ‘pengembaraan’ itu, Samuel mengaku belum mau pulang kampung, kembali mengajar di Indonesia atau terlibat film lokal. Meski begitu, ia tetap mengikuti perkembangan film dalam negeri. Samuel sering mendengar bahwa perfilman Indonesia mulai maju.

“Di 2015 ada heboh banget film Indonesia pakai efek visual, tapi mungkin terlalu ambisius ya jadi hasilnya kurang maksimal. Tapi kalau melihat perkembangan sih sekarang sudah naik, sudah banyak film yang arahnya ke efek visual,” ia membeberkan.

Jika ada kesempatan yang menjanjikan, Samuel tak menutup pintu untuk kembali ke Tanah Air.

Berita ini telah tayang di cnnindonesia.com, Selasa 5 September 2017 dengan judul Sukses 'Wonder Woman' Dibantu Bakat Pria Indonesia

TAG film
Komentar