Melongok Tradisi "Ngubaran Lembur" di Komunitas Adat Kasepuhan Karang Combong

Suasana digelarnya tradisi "Ngubaran Lembur" di Komunitas Masyarakat Adat Karang Combong, Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Lebak - Banten. (Foto: TitikNOL)Suasana digelarnya tradisi "Ngubaran Lembur" di Komunitas Masyarakat Adat Karang Combong, Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Lebak - Banten. (Foto: TitikNOL)

LEBAK, TitikNOL - Tidak banyak yang tahu keberadaan komunitas masyarakat adat Kasepuhan Karang Combong yang berada di Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak.

Mereka (masyarakat adat kesepuhan Karang Combong) yang bermukim di Kampung Sukadame, Desa Hariang ini ternyata memiliki tradisi unik yang mungkin tidak dilakukan oleh masyarakat lain.

Bertepatan di hari Pahlawan pada tanggal 10 Nopember 2017, kemarin. Masyarakat adat kasepuhan Karang Combong menggelar acara doa bersama sekaligus melakukan tradisi ritual Ngubaran Lembur (mengobati kampung) yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat adat Kasepuhan Karang Combong.

Dalam upacara adat itu, doa bersama pun mereka panjatkan kepada sang khalik untuk meminta keselamatan agar kampung Karang Combong (Kp Sukadame) yang menjadi tempat permukiman mereka, dijaga, dijauhkan dari marabahaya dan dijadikan kampung yang aman, tentram jauh dari berbagai cobaan.

Pembacaan doa bersama dipimpin oleh para kokolot lembur (kasepuhan kampung) sekaligus tokoh spritual masyarakat adar Karang Combong yakni Abah Saldi, Abah Kadut, Abah Ace, Abah Unung, sedangkan dari kalangan tokoh agama yakni Ustadz Surdi, Ustadz Arta dan Ustad Sumanta.

"Imah lamun teu di urusan pasti beak ku rinyuh atawa bokbrok, kitu ogeh lembur. (rumah kalau tidak di urus akan habis oleh rayap dan akhirnya akan rusak, begitu juga kampung)"ujar Ustadz Surdin, tokoh agama setempat disela acara ngubaran lembur.

Sementara itu, pada upacara adat tradisi ngubaran lembur (ngobatin kampung) dilakukan juga pemotongan kambing oleh masyarakat adat setempat.

Selain melakukan pemotongan kambing, mereka juga melakukan kegiatan tradisi adat lainnya seperti, disediakannya padi dalam suatu tempat, air dalam bak yang sudah di isi bungga/kembang dan lainnya untuk dibacakan doa-doa, layaknya sebuah kegiatan ruwatan.

Hal ini dimaksudkan oleh mereka, sebagai bentuk rasa syukur kepada sang khalik serta untuk memohon keselamatan. (Gun/red)

TAG budaya
Komentar