Sabtu, 5 April 2025

Pakar UI: Penolakan Pembangunan Geothermal Disebabkan Kurang Informasi

Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia (UI) Dr Eng. Yunus Daud, MSc. (Dok: net)
Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia (UI) Dr Eng. Yunus Daud, MSc. (Dok: net)

JAKARTA, TitikNOL - Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia (UI) Dr Eng. Yunus Daud, MSc menilai, rencana Presiden Joko Widodo untuk melakukan pembauran energi baru terbarukan (EBT) pada 2025 sebesar 23 persen perlu didorong oleh semua pihak.

Ia melihat, bahwa besarnya potensi dan manfaat dari EBT seperti geotermal belum banyak diketahui oleh masyarakat. Sehingga banyak penolakan terhadap pembangunan PLTP seperti yang terjadi di Padarincang, Kabupaten Serang, Banten. Pemerintah maupun investor perlu menggencarkan sosialisasi ke masyarakat.

Semua pihak diharapkan bisa duduk bersama menyelaraskan pikiran dan tujuan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di daerahnya.

"Gak semua tahu geotermal, termasuk di perguruan tinggi. Nah artinya kalau masyarakat tidak terlalu tahu juga maka wajar kalau terjadi gap informasi. Jadi baik pengusaha maupun pemerintah, harus apik dalam menyampaikan sosialisasi dan perlu dengan rendah hati," ujar Yunus, Jumat (5/02/2021).

Ia menuturkan, kultur budaya Indonesia yang beragam melalui pendekatan yang bagus, penjelasan tepat, jelas dan transparan, akan menjadi kunci tidak terjadi perbedaan pandangan terhadap energi geotermal, sehingga mampu diterima oleh masyarakat luas.

"Saya berdiri di atas semua komponen Bangsa Indonesia, di mana ada pengusaha, ada masyarakat, ada tokoh. Nah saya berdiri di antara semua. Artinya bagaimana energi ini bisa dimanfaatkan namun juga dikomunikasikan dengan sangat baik kepada masyarakat," jelasnya.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi energi geothermal sebesar 23.900 MW. Di mana, kondisi geografis Indonesia yang dilintasi jalur gunung berapi angka tersebut, kemungkinan besar akan meningkat seiring dengan temuan dan investigasi baru lainnya.

Namun besarnya potensi itu, sampai dengan saat ini baru dimanfaatkan sebesar 2.130 MW yang tersebar di beberapa wilayah. Di antaranya, Sorik Marapi (Sumatera Utara), Muara Laboh (Sumatera Barat), Lumut Balai (Sumatera Selatan), Kamojang (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah), Ijen (Jawa Timur), Flores (NTT), dan Lahendong (Sulawesi Utara).

Diterangkan Yunus, geotermal memiliki banyak manfaat dan sumber energi yang bersih. Karena emisi CO2 geotermal paling kecil di antara energi-energi lain yang ada. Apalagi jika dibandingkan sumber energi dari fosil atau batubara. Besarnya potensi berjalan beriringan dengan manfaat yang dihasilkan dari energi geotermal ini.

Selain mampu menghasilkan listrik, lanjit dia, energi ini bila dimanfaatkan dengan maksimal, mampu digunakan untuk Direct Uses (pemanfaatan panas secara langsung). Seperti untuk penghangat ruangan ataupun untuk mengeringkan hasil-hasil pertanian yang dibutuhkan dalam bentuk kering seperti kopra (kelapa kering) dan lain-lain.

“Kalau di Belanda, mereka pengen banget punya geotermal gitu, tapi mereka harus ngebor dulu 3000 meter baru dapet 100 derajat celcius. Kalau di kita 100 derajat Celcius bisa diperoleh di permukaan bumi. Sementara kita kalau ngebor 3000 meter, ya mungkin sudah bisa dapat 300 derajat celcius atau lebih. Dan ini anugerah yang luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia,” tukasnya. (TN1)

Komentar