Tak Semua Siswa Punya HP, Guru Keluhkan Sistem Belajar Daring

Ilustrasi. (Dok: Cendananews)
Ilustrasi. (Dok: Cendananews)
SERANG, TitikNOL- Padarincang ketukan sebuah Kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Serang. Pendapatan ekonomi masyarakatnya didominasi oleh kalangan menengah ke bawah.

Seiring dengan bencana wabah virus Corona yang menjadi pandemi, pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) mengeluarkan kebijakan sistem belajar Dalam Jaringan (Daring). Kebijakan itu untuk mencegah penyebaran virus Corona terhadap para murid.

Namun pada perkembangannya, sistem itu tidak dapat disamaratakan di Semua Sekolah dan Daerah. Mengingat, kemampuan siswa dalam akses pembelajarannya tidak memadai.

Faisal Amirul Mukminin, salah satu guru Elektronika di SMKN 1 Padarincang mengeluhkan dengan sistem pembelajaran Daring. Alasannya, tidak semua muridnya itu memiliki Handphone. Sehingga, belajar Daring dinilai tidak efektif di Sekolahnya mengajar.

"Kebetulan Padarincang bukan daerah Kota banget. Jadi permasalahan utama dari siswa yang tidak punya HP dan nggak semuanya punya paket data. Jujur guru juga nggak begitu paham tentang sistem ini, apalagi anaknya. Ya banyak kendalanya sih, tapi yang terpenting HP dan data," katanya kepada TitikNOL, Sabtu, (28/03/2020).

Ia mengaku pernah menggelar belajar melalui medote Daring sesuai anjuran pemerintah, namun lebih dari setengah muridnya dari satu kelas absen tidak mengikutinya. Bukan karena malas, melainkan keterbatasan murid yang tidak memiliki teknologi.

"Sama sekali nggak punya HP juga ada, HP nya jadul juga ada. Kalau di kelas saya, pernah ujian online yang diberikan, dari 20 siswa lebih dari setengahnya tidak mengerjakan. Ini kan kendala," terangnya.

Selain menjadi bentuk kewajiban guru menggelar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ditengah gempuran wabah, hal itu juga sebagai dasar tolak ukur guru memberikan nilai kepada para murid.

Ia juga mengungkapkan, bahwa terkadang Daring melalui web Saba Banten yang disediakan pemerintah mengalami eror. Mungkin, hal ini disebabkan oleh banyaknya pengguna. Sehingga server tidak kuat menampungnya

"Setahu saya kebijakan wajib Daring, malah diwajibkan menggunakan website saba Banten itu. Terlebih website nya sering eror. Mungkin servernya kurang memadai, semua merujuk kesitu jadi eror," ujarnya.

Faisal merasa bingung karena kegiatan KBM harus berlangsung tapi Sekolah dan siswa tidak bisa mengikuti belajar online. Atas kondisi itu, kemudian pihaknya mengganti sistem Daring dengan tugas individu untuk menyeleksi nilai murid.

"Masih bingung gimana ada KBM tapi tidak ada tatap muka langsung. Pastinya tidak bisa disamaratakan di semua Sekolah," tuturnya.

Bahkan terkadang, Faisal harus menelpon orang tua atau murid untuk menyampaikan informasi sistem belajar diganti dengan tugas individu.

Dengan keterbatasan tersebut, ia berharap pemerintah memiliki soslusi yang baik dan paham dengan kondisi di daerah yang tidak semua kebijakan disamaratakan.

"Siswa mengeluhkan banyak tugas. Karena kami guru mau gimana lagi melakukan tahap belajarnya kalau bukan dari tugas. Memberikan tugas itu untuk individu agar tidak main dan bergerombolan juga sesuai perintah pemerintah," tukasnya. (Son/TN1)

Komentar