CILEGON, TitikNOL - Tujuh orang terduga teroris, terlibat kontak senjata dengan petugas TNI Angkatan Laut Banten dan Direktorat Polair Polda Banten, di pelabuhan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), Rabu (23/11/2016).
Kontak senjata terjadi, setelah petugas Port Security Officer (PSO) dan Port Security Comittee (PSC), berkoordinasi dengan TNI AL Banten dan Ditpolair Polda Banten.
Namun, kejadian penyergapan teroris ini bukan kejadian yang sebenarnya. Melainkan simulasi dari rangkaian kegiatan exercise International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code, dalam menghadapi potensi bahaya terorisme di kawasan pelabuhan PT KBS.
Dalam simulasi ini? Petugas gabungan dari TNI AL dan Polair Polda Banten bersenjata lengkap, bergerak cepat dan mengepung lokasi disanderanya para pegawai pelabuhan.
Bahkan, sejumlah pelaku yang mengetahui kedatangan petugas langsung berusaha kabur dengan menggunakan speed boat, sehingga membuat kondisi pelabuhan semakin pun mencekam.
Tidak membutuhkan waktu lama, petugas dari Detasemen Polisi Militer Angkatan Laut (Denpomal) Lanal Banten dan Polair Polda Banten, akhirnya berhasil melumpuhkan ketujuh pelaku terduga teroris tersebut. Sementara pegawai yang disandera langsung dievakuasi untuk di selamatkan.
Dikatakan Direktur utama PT KBS Tono Sapoetro, kegiatan simulasi dilakukan guna mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Simulasi ini perlu dilakukan untuk melatih diri jika sewaktu-waktu akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan gangguan lainnya di pelabuhan kita ini," kata Tono Sapoetro kepada wartawan.
Tono mengatakan, latihan ISPS Code juga adalah bentuk keseriusan pihaknya dalam menjaga keamanan di kawasan pelabuhan. Mengingat, banyaknya aktivitas yang berlangsung di kawasan pelabuhan yang merupakan anak PT Krakatau Steel tersebut.
" Simulasi ini rutin kita lakukan," tukasnya.
Sementara itu, Danlanal Banten Kolonel Laut (P) Dadang Somantri menambahkan, simulasi penanganan teroris itu memang harus dilakukan secara rutin.
"Pelabuhan ini kan salah satu obyek sasaran teroris yang cukup potensial. Makanya dengan adanya simulasi ini setidaknya kita mengatasi jika terjadi hal-hal demikian," pungkasnya. (Ardi/red)