Warga Sebut Pengelolaan Dana Retribusi Pantai Sawarna Tidak Jelas

Pintu masuk wisata pantai Sawarna. (Dok: adventureriderscommunity)
Pintu masuk wisata pantai Sawarna. (Dok: adventureriderscommunity)

LEBAK, TitikNOL - Warga Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, pertanyakan pengelolaan dana hasil pungutan restribusi kunjungan wisata yang dikelola oleh pihak pemerintah desa setempat.

Pasalnya, warga menuding pihak pemerintah Desa Sawarna tidak transparan soal pengelolaan dan pengalokasian dana dari hasil pungutan retribusi kunjungan wisata tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kunjungan wisatawan ke lokasi wisata Sawarna di hari libur lebaran 2017 selama 15 hari berjumlah sekira 140 ribu wisatawan. Para wisatawan itu dipungut retribusi kunjungan wisata berdasarkan Perdes tahun 2012 oleh pemerintah desa Sawarna sebesar Rp5 ribu rupiah per orang wisatawan. Sehingga jika ditotal pendapatan asli desa (PADes) dari sektor wisata selama 15 hari di hari libur lebaran itu mencapai Rp700 juta.

Dikatakan Uday, salah satu warga, selama ini pihak pemerintah desa yang memungut retribusi kepada pengunjung tidak pernah menyampaikan laporan pertanggungjawaban secara transparan kepada masyarakat.

"Tidak ada laporan pertanggungjawaban secara transparan oleh pihak pemerintah desa kepada masyarakat dari hasil pungutan restribusi itu. Saya sudah tanya juga kepada BPD, ketua BPD juga mengaku tidak tahu berapa pendapatan dari pungutan retribusi yang Rp5 ribu per wisatawan itu," ujar Uday melalui sambungan telepon selulernya, kemarin.

"Sekarang ini banyak masyarakat yang bertanya-tanya, berapa jumlah pengunjung yang datang dan berapa pendapatan dari hasil pungutan retribusi kunjungan wisata itu. Masyarakat maunya kades atau pihak pemerintah desa transparan, berapa sih untuk biaya pembangunan fisik dan berapa operasional untuk pemdes dan lain-lainnya. Ini harus dijelaskan secara terbuka dan harus dapat dipertanggungjawabkan," papar Uday menambahkan.

Terpisah, Alek Kades Sawarna, membantah tudingan dari warganya yang menyebut Pemdes Sawarna tidak transparan soal hasil pungutan retribusi kepada pengunjung wisata Sawarna.

Menurutnya, disetiap kesempatan dan kegiatan bersama warga desa Sawarna, pihak Pemdes Sawarna kerap menyampaikan hasil pungutan retribusi kunjungan wisata dan pengalokasiannya dana hasil pungutan tersebut kepada warganya.

"Sebetulnya itu tidak ada masalah, malah masyarakat berterimakasih dari hasil retribusi pengunjung wisata itu di antaranya kita sudah alokasikan untuk pembangunan fisik jalan lingkungan yang tersebar di 24 titik lokasi. Memang kita konsepnya dari PADes itu, khususnya dari retribusi wisata tidak hanya mengalokasi dananya untuk pembangunan infrastruktur di lokasi wisata saja. Namun sipatnya tersebar di sejumlah lokasi di wilayah RW," ujar Alek di ujung telepon selulernya.

Disinggung berapa jumlah pengunjung/ wisatawan ke Sawarna pasca lebaran atau di hari libur lebaran selama 15 hari, Alex menyebut, bahwa pengunjung yang datang ke wisata Sawarna berjumlah sekira 100 ribu pengunjung, dengan total pendapatan dari pungutan retribusi Rp5 ribu per orang pengunjung sebanyak Rp500 juta di waktu 15 hari liburan lebaran 2017.

"Sekitar 100 orang pengujung, berarti pendapatan sebesar Rp500 juta,"tukas Alek. (Gun/red)

Komentar