Pentas di Serang, Teater Forum Kritik Pemangku Kebijakan Lewat 'The Theatre'

Salah satu pementasan teater forum si Kota Serang. (Foto: TitikNOL)Salah satu pementasan teater forum si Kota Serang. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Pentas di Serang, Teater Forum kritik pemangku kebijakan melalui isu sosial dengan lakon yang diangkat bertajuk The Theatre. Pentas kali ini disutradarai oleh Tatang Abdullah yang juga turut menjadi pemeran.

Jenis teater yang dipentaskan dalam seri kelima ini cukup beragam, di antaranya Lenong, drama percintaan, tari topeng hingga tari modern. Semuanya dilakoni dalam satu kisah cerita dan diolah menjadi bahan kritik sosial yang menggelitik.

Hal ini bertujuan untuk memberi informasi kepada penonton tentang tentang perjalanan panjang gaya teater yang bermula tradisional, dramatik hingga pos-modern.

Misalnya saja saat Mat Donat dan Semi memerankan sebagai preman dengan gaya lenong, menagih Udin (berperan sebagai warga) agar patuh membayar pajak kepada pemerintah.

"Pajak itu bukan untuk kepentingan gua, buat kepentingan kesejahteraan semuanya," serunya.

Udin yang telat membayar pajak menuturkan alasannya. Ia mengatakan, bahwa harga bahan pokok yang mahal membuat dirinya kesulitan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari keluarganya.

Udin pun menjelaskan, bahwa pemimpin hari ini banyak menekan rakyat agar patuh terhadap aturan yang berlaku. Penuh pencitraan agar terlihat baik dimata publik. Namun pada perjalanan tupoksinya, banyak pejabat yang menyalahkan kebijakan serta wewenangnya hingga mendekam di penjara.

Di tengah peranannya Udin menyampaikan, kredibilitas serta kemampuan yang mumpuni wajib menjadi pondasi dasar sebelum menjadi pemimpin. Agar pada saat mengeluarkan sebuah kebijakan tidak berpihak kepada konglomerat dan cukong-cukong.

Tapi, nasihat itu dianggap Mat Donat dan Semi sebagai angin berlalu. Keduanya justru semakin beringas menekan Udin memaksanya untuk cepat membayar pajak. Hingga akhirnya menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dan membekuk dibalik jeruji.

Hal tersebut baru satu babak penggalan cerita saja. Masih banyak cerita lainnya yang tak kalah menjadi sarat kritik isu sosial yang pedas. Seperti halanya pemeran yang mengkritik generasi remaja saat ini apatis terhadap perkembangan politik yang cenderung pragmatis.

Kemudian di luar narasi, penonton dimanjakan dengan penampilan artistik panggung dengan tata cahaya, multimedia yang membangunkan suasana saat pentas berlangsung.

Belum lagi dengan puisi kisah cinta yang diiringi musik biola dan tarian ala black pink semakin membuat antusias para penonton yang dibanjiri kaum remaja.

Setelah diakhir cerita pentas, sang sutradara mengatakan bahwa 'The Theater' membawa kritik secara signifikan. Mengkritik pemimpin yang penuh pencitraan merupakan keniscayaan. Dan paling pamungkas yaitu pengkritik terbaik bagi para politisi adalah kaum seniman.

Pentas Teater Forum di Serang ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya jumat (23/8) mereka pentas dengan dua seri. Dilanjutkan hari ini sabtu (24/8) digelar tiga seri dengan cerita yang berbeda-beda.

Kisah unik dengan menggabungkan jenis teater tradisional dan kekinian adalah ciri khas dari Teater Forum. Penonton akan bertanya-tanya dan penasaran oleh alur cerita yang dibawakan para pemeran. Meski begitu, pola dan kritik santun adalah tonggak utama dalam pementasan Teater Forum. Bravo The Theatre! (Son/TN1)

Komentar