TitikNOL - Hannah Al Rashid belum pernah terlibat dalam film garapan Gareth Evans, seperti The Raid atau The Raid 2: Berandal. Namun ia pantas menjadi jagoan perempuan baru dalam film pendek Evans, Samurai Silat.
Samurai Silat merupakan hasil keisengan Evans dengan dua sahabatnya yang juga terlibat dalam The Raid, Yayan Ruhian dan Cecep Arief Rahman. Mereka ingin membuat proyek laga yang ramah pada anak-anak.
"Itu didesain sebagai tawaran untuk membuat koreografi yang memadukan gaya dan ritme dari pekerjaan sebelumnya (The Raid 1 & 2) namun tetap dalam jangkauan yang ramah untuk penonton PG-13 atau 12A," tulis Evans dalam akun YouTube resminya.
Selain itu, Evans juga sangat rindu menggarap film. "Setelah dua tahun tanpa mengangkat kamera," Evans melanjutkan.
Meski hanya berdurasi lima menit dan dipersiapkan selama kurang dari seminggu, film itu tetap sememukau karya Evans yang lain. Ada atmosfer menegangkan sekaligus aksi laga yang intens. Silat masih menjadi daya tarik. Kali ini ditambah lantunan musik tradisional yang bercampur Jepang.
Dihubungi CNN Indonesia, Hannah sebagai salah satu pemeran utama bercerita bagaimana proyek iseng itu dimulai. Katanya, awalnya Yayan dan Cecep yang bertemu Evans terlebih dahulu di Wales.
Mereka "merumuskan" koreografi yang lebih ramah anak dibanding dalam The Raid. Hannah yang kebetulan sedang mengunjungi Eropa, baru sampai satu hari sebelum syuting. "Saya langsung belajar koreo," Hannah menyampaikan melalui pesan singkat.
Ia melanjutkan, "Setiap malam sebelum syuting, latihan lagi untuk besoknya. Jadi datang, latihan, langsung syuting. Pulang, latihan lagi, langsung syuting lagi."
Hannah jarang bermain film yang melibatkan aksi laga. Terakhir, ia terlibat dalam serial HBO Asia, Halfworlds, yang dibikin Joko Anwar. Ia mengaku sedikit kesulitan karena harus memainkan katana, pedang panjang yang biasa dipakai samurai.
"Dan sekaligus pakai dua katana," lanjutnya. Namun ia mengaku sangat dibantu oleh Yayan dan Cecep. Hannah bahkan tak mengalami cedera apa pun saat adegan pertempuran dengan mereka berdua.
"Kami sangat menjaga keamanan di sana. Karena cuaca dingin banget kami bahkan memakai wet suit di bawah kostum, biar aman dari dingin," tuturnya menjelaskan.
Hasilnya memuaskan. Hannah menyebut Samurai Silat merupakan karya Evans yang bisa dibilang berbeda dibanding biasanya. Kalau dahulu sangat sadis bahkan berdarah-darah, kali ini lebih soft meskipun gaya dan konsistensinya tetap sangat The Raid, sesuatu karakter Evans.
Hannah menyampaikan, belum ada rencana lebih lanjut soal penggarapan pre visual itu. "Ini murni hanya untuk mengetes sesuatu yang berbeda," tuturnya.
Keinginan Evans mulanya sederhana. Ia ingin membuat sesuatu yang, anaknya yang kini berusia enam tahun, tetap bisa menonton. Karena itulah akting-akting laganya dibuat tidak sekeras biasanya.
Sumber:www.cnnindonesia.com