Minim Serap Tenaga Kerja Lokal, DPRD Cilegon Sebut PT SRI Lakukan Pelecehan

Hearing Komisi II DPRD Kota Cilegon dengan Disnaker Kota Cilegon, PT SRI dan masyarakat Gunung Sugih. (Foto: TitikNOL)Hearing Komisi II DPRD Kota Cilegon dengan Disnaker Kota Cilegon, PT SRI dan masyarakat Gunung Sugih. (Foto: TitikNOL)
CILEGON, TitikNOL - Komisi II DPRD Kota Cilegon menggelar rapat dengar pendapat (hearing) dengan PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI), Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon dan warga Gunung Sugih, Selasa (14/1/2020).

Hearing yang berlangsung di ruang rapat DPRD Kota Cilegon itu, membahas terkait proses rekrutmen tenaga kerja di PT SRI.

Perlu diketahui, dari 177 orang karyawan di PT SRI, hanya ada 6 orang warga Gunung Sugih yang bekerja di perusahaan join venture antara Michelin dan PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) tersebut.

Salah seorang warga Gunung Sugih, Masuli, mengaku kecewa dengan PT SRI yang tidak memprioritaskan warga Gunung Sugih dalam penerimaan tenaga kerja.

Masuli mengungkapkan, masyarakat Gunung Sugih memiliki hak untuk kehidupan yang layak. Apalagi lokasi pemukiman masyarakat sangat berdekatan dengan perusahaan. Bahkan tak jarang, masyarakat kerap terkena dampak akibat dari adanya proses produksi di PT SRI.

"Masyarakat Gunung Sugih termasuk masyarakat yang paling dekat dengan perusahaan dan selalu terkena dampak akibat produksi. Jadi wajar kalau kita minta kepada PT SRI untuk memprioritaskan warga Gunung Sugih," kata Masuli.

Warga Gunung Sugih juga menuding, bahwa PT SRI sudah ingkar terkait rekrutmen tenaga kerja. Pasalnya di dalam amdal PT SRI sudah disebutkan, bahwa akan ada penerimaan tenaga kerja yang melibatkan masyarakat terdekat.

"Hanya 6 orang warga Gunung Sugih yang bekerja diPT SRI itu sebagai bukti kalau PT SRI tidak memprioritaskan warga lokal yang juga memiliki kompetensi," ungkap Masuli.

Fakta yang diungkapkan warga Gunung Sugih terkait rekrutmen tenaga kerja di PT SRI tersebut, langsung mendapat respon para anggota Komisi II DPRD Kota Cilegon.

Perusahaan yang terletak di Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, dianggap telah melecehkan warga lokal dan Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon terkait rekrutmen tenaga kerja.

"PT SRI ini sudah melecehkan masyarakat dan Pemkot Cilegon. Memangnya masyarakat lokal tidak ada yang kompeten?. Perusahaan harus mencari solusi terkait rekrutmen tenaga kerja supaya warga Gunung Sugih terakomodir. Jangan sampai masyarakat melakukan demo," kata anggota Komisi II DPRD Kota Cilegon, Hasbi Sidik.

Sementara itu, Direktur PT SRI, Mursosan Wiguna, membenarkan jika warga Gunung Sugih yang bekerja di PT SRI berjumlah 6 orang.

"Iya benar dari 177 orang tenaga kerja di PT SRI 6 orang diantaranya warga Gunung Sugih. Tapi kalau untuk warga Kota Cilegon secara keseluruhan itu jumlahnya 62 orang," katanya.

"Kembali lagi harus dilihat bahwa investasi PT SRI itu padat modal, jadi teknologinya yang dipakai teknologi tinggi. Tapi kita tetap memperhatikan masyarakat lokal, kita memberikan kesempatan untuk mereka ikut tes. Tesnya juga kita lakukan secara normal, tidak ada kita pisahkan ini masyarakat lokal dan lain sebagainya," jelas Mursosan. (Ardi/TN1).

Komentar