346 Rumah, Tiga Sekolah, Dua Tempat Ibadah, Tujuh Warga Terluka Akibat Gempa 7,4 M

Warga yang mengungsi akibat gempa M 7,4  (Foto: BPBD)
Warga yang mengungsi akibat gempa M 7,4  (Foto: BPBD)

JAKARTA, TitikNOL - Gempa bumi dengan kekuatan magnitodo (M) 7,4 yang terjadi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan 346 rumah warga rusak.

Warga sempat panik lantaran BMKG mengeluarkan prediksi gempa 7,4 magnitudo berpotensi tsunami.

Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per pukul 22:15 WIB, kerusakan rumah yang berhasil dicatat ada sebanyak 346.

Dari jumlah itu, ada 134 rumah mengalami rusak berat dan 212 lainnya rusak ringan. Di sisi lain, ada 3 unit gedung sekolah, 2 tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa dan satu pelabuhan rakyat juga terdampak gempa bumi.

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengaku belum ada laporan mengenai korban jiwa. Akan tetapi, data korban luka ada sebanyak 7 orang, yang mana 6 orang adalah warga Kabupaten Kepulauan Selayar dan 1 orang warga Kabupaten Manggarai di NTT.

"Menurut laporan dari BPBD Kabupaten Sikka, terdapat warga Kabupaten Sikka yang mengungsi sebanyak 770 orang dengan rincian, ada 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Kabupaten Sikka, kemudian 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya di Aula Rumah Jabatan Bupati Sikka di NTT," katanya melalui rilisnya yang dikutip, Rabu (15/12/2021).

Dari keseluruhan data akumulasi sementara, gempabumi M 7,4 telah dirasakan dan berdampak pada sembilan kabupaten di Provinsi NTT, tiga kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan dan enam kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun rincian wilayah tersebut meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Lembata, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada di Provinsi NTT.

Kemudian Kabupaten Kepulauan Selayar, Kabupaten Bulukumba dan Kota Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya adalah Kabupaten Muna, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Baubau, Kabupaten Buton Selatan dan Kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hingga sejauh ini telah mencatat adanya gempabumi susulan (aftershock) hingga 120 kali. Dari keseluruhan gempabumi susulan itu, BMKG mencatat sedikitnya ada 5 gempabumi yang memiliki magnitudo di atas 5, yakni M 5,6 pada pukul 10:41 WIB, M 5,5 pada pukul 10:47 WIB, M 5,0 pada pukul 12:46, M 5,4 pada pukul 15:31 WIB dan M 5,2 pada pukul 15:57 WIB.

Menyikapi adanya potensi gempabumi susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu, maka BNPB memberi imbauan kepada masyarakat khususnya yang berada di wilayah terdampak agar tidak panik namun tetap waspada.

"Masyarakat juga diminta untuk melihat kondisi rumahnya masing-masing, apabila kemudian terdapat kerudakan seperti dinding retak terbuka, plafon atap bergeser dan tiang rumah rusak, sebaiknya tidak tinggal di rumah sementara dan dapat mengungsi ke rumah kerabat, saudara atau tempat penampungan yang disediakan oleh instansi dan otoritas setempat," terangnya. (TN3)

Komentar