Cara Mencegah Remaja Putri Agar Terhindar dari Anemia

Ilustrasi remaja putri. (Dok: satuharapan)
Ilustrasi remaja putri. (Dok: satuharapan)

TitikNOL - Kini Indonesia sedang dihadapkan pada permasalahan gizi yang cukup kompleks. Data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa remaja berusia 13-18 tahun memiliki tingkat kecukupan energi sebesar 72,3 persen dengan proporsi pengonsumsi kurang dari 70 persen Angka Kebutuhan Energi (AKE), yakni sebesar 52,5 persen.

Melihat masalah tersebut, diperlukan peningkatan gizi remaja. Terutama pada remaja putri yang membutuhan gizi yang lebih banyak. Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), masa remaja di rentang usia 15-18 tahun merupakan fase awal di mana kebutuhan nutrisi akan terbagi berdasarkan jenis kelamin.

Hal ini disebabkan adanya perubahan biologis dan fisiologis, sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi antara remaja laki-laki dan perempuan pun berbeda. Secara khusus, remaja putri sebagai calon ibu di masa depan memiliki kerentanan dalam masalah gizi.

Pada masa inilah, remaja putri mengalami menstruasi awal dalam fase kehidupannya. Inilah yang membuat remaja putri membutuhkan zat besi yang lebih banyak. Anemia saat menstruasi juga perlu diwaspadai karena bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk itu, Ir. Ahmad Syafiq, M.Sc., Ph.D selaku ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyarankan agar kita saling mengingatkan sesama warga untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bernutrisi.

"Fokus kami saat ini ialah konsumsi gizi dalam bentuk protein hewani, mengingat saat ini konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih terbilang kurang. Kurangnya protein secara konsisten pada masa remaja dapat berakibat pertumbuhan linear kurang, keterlambatan maturasi seksual, serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak," ungkapnya saat ditemui dalam acara 'Fokuskan Pengembangan Gizi Remaja Putri JAPFA Foundation Gelar Konferensi Bergizi 2016, di Jakarta.

Hal serupa pun dikatakan Ir. Doddy Izuardy, MA selaku Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi KIA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lingkungan sekolah seperti guru penting untuk mengetahui tentang gizi pada remaja putri, agar mereka bisa mengajarkan kepada siswa-siswa di sekolah.

"Menangani remaja paling efektif adalah dengan mengobrol, jadi lingkungan sangat berperan untuk mengingatkan mereka. Gizi seimbang dan makanan beragam menjadi hal yang harus banyak dikonsumsi remaja putri karena kelemahan remaja putri kita, ada 10 pesan gizi seimbang bukan baca label pangan, tapi malah melihat label harganya," ujarnya.

Komentar