Kamis, 3 April 2025

Konsumsi Gula Berlebih saat Hamil dapat Berpengaruh Terhadap Kesehatan Anak

Ilustrasi ibu hamil. (Dok: sunwarrior)
Ilustrasi ibu hamil. (Dok: sunwarrior)

TitikNOL - Hati-hati konsumsi gula berlebihan saat hamil. Bukan hanya berpotensi menambah berat badan dan mengganggu kesehatan ibu, gula juga bisa memengaruhi kesehatan bayi kelak.

Saat hamil, ibu tak jarang mengalami apa yang disebut ngidam. Makanan dan minuman manis biasanya salah satu kategori yang masuk daftar keinginan.

Cokelat, es krim, roti selai kacang, sampai ampyang yang legit dan menggoda. Semuanya memiliki kandungan gula tinggi.

Selain tak sehat jika dimakan dalam jumlah berlebihan, ternyata konsumsi gula juga dapat meningkatkan risiko alergi dan asma pada bayi setelah ia dilahirkan. Hubungan antara ibu yang mengonsumsi gula dan anak asma ini adalah hasil temuan riset terbaru, seperti dilansir TIME.

Periset dari Queen Mary University of London mengamati data dari hampir 9.000 ibu dan anak. Mereka berhipotesis bahwa masalah pernapasan ada kaitannya dengan asupan gula saat ibu hamil.

Sampel yang digunakan dalam riset ini merupakan bagian dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children atau studi Children of the 90s--para ibu yang jadi sukarelawan studi hamil pada tahun '90-an, dan anak mereka kemudian diamati oleh para peneliti sejak lahir.

Sejauh ini, tidak banyak riset yang mencoba menggali informasi tentang subjek ini. Kebanyakan fokus pada makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, dan memicu asma.

Itu mengapa para periset di Queen Mary University of London berkeinginan membantu kaum ibu dengan menelisik, apakah mengonsumsi terlalu banyak gula di saat hamil berhubungan dengan anak yang menderita asma dan memiliki alergi di kemudian hari.

Studi yang dipublikasikan dalam European Respiratory Journal ini membandingkan 20 persen pengonsumsi gula teratas--para ibu yang memakan setidaknya lima sendok teh gula per hari--dengan 20 persen pengonsumsi gula di tingkat paling bawah, juga melihat anak-anak yang kemudian mengalami masalah pernapasan.

Ternyata, periset menemukan bahwa para ibu yang paling banyak mengonsumsi gula, memiliki anak yang punya kecenderungan memiliki alergi, dan didiagnosis asma.

Memang, saat ini para peneliti belum memiliki penyebab definitif 100 persen atas hubungan ini. Mereka meyakini ini mungkin ada kaitannya dengan asupan fruktosa ibu yang memicu semacam respons kekebalan alergi pascamelahirkan yang menyebabkan peradangan alergi pada paru-paru anak yang sedang berkembang.

Dengan kata lain, mengonsumsi terlalu banyak gula dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh bayi. Namun, hal ini baru bisa terlihat setelah bayi lahir.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa riset ini tidak berhasil menemukan hubungan antara konsumsi gula tinggi dan seluruh tipe asma. Ya, ada banyak diagnosis asma yang dikenal dalam dunia medis.

Semuanya memang memiliki gejala peradangan pada saluran pernapasan. Namun, jenis asma ada bermacam-macam.

Misal, asma yang dipicu olahraga, asma yang berhubungan dengan pekerjaan, asma masa kecil, dan asma alergi. Nah, asma yang ditemukan para peneliti dalam riset ini adalah asma alergi.

Selain itu, hubungan antara asupan gula saat hamil dan seluruh tipe asma terbukti namun tidak kuat. Pun demikian, temuan hubungan antara asupan gula dan asma alergi memang cukup tinggi.

Temuan tersebut menunjukkan peningkatan risiko alergi sebanyak 101 persen. Juga meningkatnya risiko asma alergi pada saat anak berusia tujuh tahun. Periset juga menemukan risiko anak menderita alergi secara umum meningkat 38 persen.

Adakah kemungkinan faktor lain memicu naiknya risiko ini bagi anak-anak? Setelah mngamati latar belakang karakteristik para ibu, faktor sosial, dan perihal diet kehamilan, hasilnya sama saja.

Tidak hanya itu, periset juga mengamati makanan yang dikonsumsi anak-anak ini. Seperti halnya riset-riset sebelumnya--yang mengamati asupan gula anak dan asma--studi ini juga tak menemukan hubungan di antara keduanya.

Jadi, gula lah akar permasalahannya.

Kendati demikian, menurut kepala riset, Profesor Seif Shaheen, ia dan timnya tidak bisa menyatakan atas dasar observasinya bahwa konsumsi gula dalam jumlah banyak oleh ibu hamil pasti menyebabkan alergi dan asma alergi pada anak.

"Bagaimanapun, mengingat konsumsi gula yang tinggi oleh masyarakat di barat, kami pasti akan meneliti hipotesis ini lebih lanjut," jelas Shaheen dilansir Telegraph.

Langkah pertamanya adalah melihat apakah mereka dapat mereplikasi temuan ini dalam kelompok ibu dan anak yang berbeda. "Jika kami bisa, kami akan merancang percobaan untuk menguji, apakah kami bisa mencegah alergi pada masa kecil dan asma alergi dengan mengurangi konsumsi gula pada ibu selama masa kehamilan," papar Shaheen.

Sementara ini, Shaheen dan tim merekomendasikan para ibu hamil untuk mengikuti anjuran konsumsi gula dari dokter dan badan kesehatan, serta tidak mengonsumsi gula secara berlebihan.

Berita ini telah tayang di Beritagar.id, Selasa 25 Juli 2017 dengan judul Asupan gula saat hamil pengaruhi kesehatan anak

Komentar