Senin, 7 April 2025

Obat Gangguan Jiwa Telah Ditemukan Ilmuwan Asal Indonesia

Ilustrai orang gila. (Dok: anneahira)
Ilustrai orang gila. (Dok: anneahira)

TitikNOL - Penyakit yang menyerang mental, Schizophrenia, kini ditemukan obatnya. Obat anti-schizophrenia tersebut bernama Neurogulin-1 (NRG1). Dengan obat ini, orang yang mengalami gangguan kejiwaan dapat diusahakan pemulihannya. Meski demikian obat sakit kejiwaan tersebut masih dalam tahap uji coba pada hewan.

Penemu NRG1 adalah Profesor Taruna Ikrar dan koleganya dari Universitas California, Amerika Serikat. Prof Taruna merupakan ahli neurosains Indonesia yang berasal dari Makasar, Sulawesi Selatan. Penelitiannya telah dimuat dalam Jurnal Neuron edisi Oktober 2016 dengan judul Neuregulin1/ErbB4 Signaling Regulates Visual Cortical Plasticity.

Menurut Prof Ikrar, dalam jaringan saraf manusia punya kelebihan plastisitas. Dengan melakukan latihan kognitif, seseorang dapat diturunkan risikonya terhadap kemungkinan mengalami gangguan jiwa berat. Hal ini dilakukan selama fase perkembangan otak.

Dalam uji coba, hewan percobaan memiliki kerusakan pada pusat saraf otak atau visual cortex. Setelah hewan tersebut diberi NRG1 melalui standar pelatihan kognitif, diketahui hewan ini mengalami kemajuan yang signifikan.

“Dengan aplikasi obat yang disebut NRG1 (Neurogulin-1), (penelitian) menunjukkan hasil bahwa sikronisasi dan sinapsis serta harmoni di otak menjadi normal setelah pemberian NRG1,” kata Prof Taruna, seperti dikutip dari laman Republika.

Prof Taruna dan koleganya akan meneruskan studi lanjutan atas temuan ini. Skala yang lebih luas akan diterapkan pada pasien-pasien yang mengalami schizophrenia di rumah sakit dalam jangka waktu studi selama dua tahun.

“Jika hasil uji klinis pada manusia memperlihatkan hasil yang sama, berarti NRG1 akan menjadi obat molekular yang sangat ampuh untuk mengobati penyakit jiwa menahun dewasa ini,” tuturnya.

Selama ini penderita gangguan jiwa berat seperti schizophrenia kerap dianggap aib bagi keluarga. Banyak pasien yang ada di Indonesia akhirnya dipasung dan terisolasi dari lingkungannya. Padahal mereka seharusnya mendapatkan penanganan medis untuk proses penyembuhan. Menurut Prof Taruna, penyakit jiwa ini turut dipengaruhi kemunculannya oleh faktor keturunan dan lingkungan.

Sumber: www.sidomi.com

Komentar