TitikNOL - Orang tua memegang peran penting dalam pembentukan keputusan seksual remaja. Karena itu, pembicaraan seputar seks adalah hal wajib.
Menurut riset pada 2016, remaja yang diajak bicara soal seks oleh orang tuanya cenderung menunda hubungan seksual. Kalaupun tidak, mereka menggunakan alat pengaman saat melakukannya.
Sementara menurut riset baru, suara orang tua--adalah salah satu dari sekian banyak pengaruh--berperan kecil namun signifikan dalam membantu menjaga anak-anak mereka terhindar dari penyakit menular seksual dan kehamilan yang tak diinginkan.
Walaupun studi ini menemukan adanya asosiasi antara pembicaraan tentang seks dengan remaja dan penundaan aktivitas seksual, studi ini tidak dirancang untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat.
Dikutip New York Times, efek pendidikan seks sedikit lebih kuat jika ibu yang bicara pada anak perempuan. "Mungkin ini karena orang tua cenderung membicarakan seks dengan anak perempuan daripada anak laki-laki," jelas kepala riset Laura Widman.
Namun lanjutnya, penting bagi orang tua untuk memperbaiki pola komunikasi, baik dengan anak perempuan pun laki-laki agar para remaja dapat membuat keputusan seksual yang lebih aman.
Widman tak sendiri, Vincent Guilamo-Ramos, profesor dan direktur Center for Latino Adolescent and Family Health di New York University pun sependapat mengenai pentingnya bicara soal seks dengan anak remaja.
Guilamo-Ramos mengingatkan, orang tua kerap kali berpikir membicarakan seks dengan anak-anak berarti mereka memaklumi perilaku seksual, dan anak-anak menjadi aktif secara seksual. Padahal tidak demikian.
"Kami punya banyak bukti sebaliknya. Orang tua yang membahas masalah ini, justru anak-anaknya memilih untuk menunda hubungan seksual. Atau menggunakan pengaman saat melakukannya," kata Guilamo-Ramos.
Percakapan rutin dengan muatan pendidikan seks sebaiknya dimulai sebelum anak memasuki masa aktif seksual. Pastikan anak paham nilai-nilai yang dianut keluarga soal hubungan seksual. "Walaupun ini mungkin percakapan yang sulit, tapi sangat penting," imbuh Widman.
Ada banyak topik yang perlu dibahas dalam pendidikan seks. Kehamilan, penyakit, belum lagi soal patah hati dan lain sebagainya. Karena itu, pembicaraan ini tak bisa hanya dilakukan satu kali.
Widman yang juga asisten profesor departemen psikologi di North Carolina State University menambahkan, agar pendidikan seks berdampak lebih kuat pada anak laki-laki, frekuensi pembicaraan bisa ditingkatkan. Isi pembicaraan juga perlu dibedakan.
"Misal, orang tua bisa lebih membahas konsekuensi dari kehamilan di usia remaja bagi anak laki-laki, tegaskan juga pentingnya komunikasi yang jelas dan kesepakatan dengan pasangan," Widman menjelaskan.
Jadi pendidikan seksual bukanlah ceramah dari orang tua, melainkan diskusi sarat makna di mana orang tua membantu anak memahami konsekuensi perilaku mereka.
Sumber: www.beritagar.id