Kisah Aksi Kepolisian Indonesia Ditonton Sampai Hongkong dan Taiwan

Foto ilustrasi peran polisi dalam penggusuran Kalijodo. (Dok: metrotvnews)
Foto ilustrasi peran polisi dalam penggusuran Kalijodo. (Dok: metrotvnews)

TitikNOL - Polisi Indonesia juga bisa melakukan penangkapan dan penuntasan kasus yang sama seperti pasukan khusus di serial televisi CSI, NCIS, dan lainnya. Aksi polisi Indonesia pun dibuatkan drama kriminal seperti mereka, berjudul Crime + Investigation.

Tiga kasus yang diangkat dalam Crime + Investigation: Indonesia, yaitu Cleansing Kalijodo, Drug Runner Lover, dan The Mafia Manager. Sebulan sekali, masyarakat Asia Tenggara ditambah Hong Kong dan Taiwan bisa menontonnya di layar kaca dengan berlangganan televisi khusus berbayar.

Produser eksekutif Kevin Ho sendiri yang memilih tiga kasus itu, dibanding kasus-kasus kepolisian Indonesia lainnya yang dirangkum dan diserahkan padanya. Crime + Investigation Network memang bekerja sama dengan Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Sang direktur Kombes Pol. Krishna Murti sendiri yang turun tangan.

Selain sebagai narasumber, Krishna juga menjadi narator dalam drama dokumenter yang 100 persen diambil dari kisah nyata tanpa rekayasa itu. Ia juga membantu para bintang seperti Ario Bayu, Fauzi Baadila, dan Samuel Rizal mendalami peran.

Ario bakal memerankan Krishna, yang namanya melambung terutama setelah menjadi pahlawan dalam kasus penuh sorotan seperti bom Sarinah.

Samuel menjadi AKBP Hery Heryawan, yang pernah menorehkan beberapa prestasi mengesankan seperti mengevakuasi korban bom Sarinah dan menangkap serta menembak preman John Kei.

Sementara Fauzi, dengan tipe wajahnya yang keras didapuk menjadi Daeng Aziz, pentolan Kalijodo.

Bagi mereka, terlibat dalam seri dokumenter itu tidak mudah. Berakting menjadi polisi di film mungkin sudah biasa. Tapi menjadi polisi sungguhan, meski latarnya bikinan, butuh usaha lebih. Samuel sampai riset tentang Hery, mulai riwayatnya sampai caranya berjalan.

"Cara handle orang, man-to-man atau publik juga, semua dilihat," kata Samuel baru-baru ini.

'Tugas' Fauzi tak kalah berat. "Beberapa adegan harus dipelajari dengan detail, enggak cuma modal reading. Curi pengamatan sana-sini, pahami psikologi orang-orang di sana juga," ujar sang aktor. Ia juga berlatih menggunakan senjata sungguhan.

Untung di film-film sebelumnya, di mana Fauzi sering mendapat karakter yang keras, ia sudah pernah pegang senjata. Hanya saja, kali ini asli, karena disokong properti Polda Metro Jaya. "Saya juga lihat di YouTube dari cuplikan film lain."

Seperti yang disampaikan Mirna, produser Crime + Investigation: Indonesia, dalam kesempatan yang sama, Polda Metro Jaya tidak memberi dukungan secara finansial. Namun mereka membantu soal riset kasus, runtutan cerita, dan properti syuting.

Krishna menuturkan, pihaknya mendukung serial itu agar masyarakat lebih dekat dengat kinerja kepolisian. "Masyarakat tahu susahnya menyelesaikan ini [kasus]. Enggak cuma lihat di rilis atau TV saja. Ingin membuktikan polisi Indonesia setara dengan polisi di luar. Biar enggak dipandang remeh, dan biar orang Indonesia bangga punya polisi yang bagus," Krishna mengatakan.

Sebenarnya, ia membandingkan, polisi Indonesia tidak kalah dengan polisi luar negeri. Di Indonesia, polisi harus terus disekolahkan. Sementara di luar negeri, hanya ada lima sampai tujuh bulan pelatihan, lalu selesai. "Mereka menang di teknologi, dan kita terbatas," Krishna mengakui.

"Tapi," tambah Krishna, "dari keterbatasan itu kita tetap bisa banyak ungkap kasus."

'Membangun Ulang' Kalijodo, Ditolak Hotel

Mengangkat kinerja kepolisian ke layar kaca, diakui Mirna sebagai produser, tidak mudah. Syuting tiga episode memang hanya butuh 12 sampai 13 hari. Tapi proses di baliknya bisa dibilang rumit.

Untuk episode Cleansing Kalijodo misalnya, sudah rata dengan tanah saat syuting belum dilakukan. Tim produksi pun harus mengesetnya ulang.

"Pak Krishna juga menyuruhnya nge-set saja, karena saya sudah pernah ke sana. Ternyata memang tempatnya ngeri banget," ujar Mirna.

Belum lagi meminta set untuk episode Drug Runner Lover. Kata Mirna, untuk itu pihaknya membutuhkan set kamar hotel. Tapi tak ada hotel yang mau membuka pintu setelah tahu ceritanya tentang penangkapan gembong narkotika.

Apalagi melibatkan polisi. "Hotel-hotel yang kecil sampai yang besar bilang, 'Enggak, enggak.' Mereka enggak mau," kata Mirna. Ia akhirnya menggunakan rumah salah seorang teman yang cukup besar. Ditambah, Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

"Sebenarnya Terminal 2, tapi kan ramai banget. Jadi pakai Terminal 3. Ya lumayan, mengatur alur pengunjungnya juga tidak gampang," tuturnya.

Bekerja sama dengan kepolisian, selain mempermudah, di satu sisi juga menjadi tantangan tersendiri. Ada beberapa hal yang sensitif.

"Ada kasus yang sensitif dan ada yang enggak. Terus ada beberapa teknologi polisi, cara penangkapan, yang merupakan rahasia mereka jadi tidak boleh dipertontonkan," kata Mirna. Padahal, lanjutnya, seringkali itu menjadi kunci penangkapan. Itu akan menunjukkan seberapa bagus kepolisian, teknologi atau kemampuannya.

"Mesti ditutupi, karena kalau enggak nanti penjahatnya lebih pintar dari polisi," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

Sumber: www.cnnindonesia.com

Komentar