SERANG, TitikNOL – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso mengatakan, kebutuhan daging 80 persen hasil impor dari luar negeri. Mengingat, hitungan neraca daging memerlukan feedloter dari Impor.
Neraca itu merupakan strategi produksi agar optimal untuk memenuhi pasar lokal. Tapi pada kenyataannya, produk lokal Banten tidak hanya bisa untuk Banten.
"Selama ini hampir 80 persen kita di Banten Impor, tapi juga tidak hanya suplay Banten, kalau fedoper di Banten itukan suplay DKI," katanya saat ditemui di Pendopo Lama Gubernur, Kamis (21/1/2021).
Ia mengakui, harga daging potong sapi hidup dari Australia mengalami kenaikan dari Rp42 ribu menjadi Rp48 ribu. Melihat perkembangan itu, pihaknya akan mencari alternatif lain untuk impor dari Mexico, Amerika Latin.
"Mudah-mudahan tidak harus terjadi mogok jualan, karena stoknya sih ada, di kandang ada. Kemudian yang sapi anakan sudah datang dari Australia. Meskipun untuk mengimbangi kenaikan, pemerintah mewacanakan untuk impor dari Mexico. Selama ini kan hanya dari Australia, harganya mulai mahal, sehingga Indonesia mencari alternatif ke Amerika Latin," terangnya.
Babar menyebutkan, bahwa pasar tidak boleh dikosongkan. Sebab, hal ini akan berdampak panjang pada pendistribusian sapi ke depan. Jika itu dilakukan, maka akan ada pengisian distribusi daging dari luar Banten.
Untuk menghindari mogok pedagang di wilayah Serang, pihaknya akan melakukan tindakan persuasif dengan para pengusaha daging.
"Katanya besok mulai (mogok), hari ini masih ada yang jualan. Tapi kalau hari ini mudah-mudahan tidak, karena APD tidak mengimbau yang diluar dari Jabodetabek. Kita sedang persuasi mudah-mudahan tidak ada yang mogok," tukasnya. (Son/TN1)