SERANG, TitikNOL - Jelang pelaksanaan proses belajar tatap muka, pelaksanaan rapid test sebagai salah satu prosesdur sekolah dibuka, tidak berjalan efektif.
Pasalnya, banyak guru yang mangkir dari rapid test yang digelar oleh Dinas Kesehatan Kota Serang. Padahal, pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan guru yang akan mengajar di SD dan SMP.
Kabid pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ratu Ani Nuraeni mengatakan, dari 200 guru yang diperintahkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, hanya ada 94 orang yang telah dilakukan rapid test.
"Perintah dari Dindik untuk merapid test guru sebanyak 200 orang, tapi berdasarkan data kehadiran hanya 94 orang yang datang," katanya saat ditemui usai melakukan rapid test, Jumat (14/8/2020).
Menurutnya, Dinkes selalu terbuka untuk menjamin kesehatan warga Kota Serang. Pemeriksaan yang dibuka pada pukul 08:30 hingga 11:30 ini, 94 guru yang menjalankan rapid tes dinyatakan non reaktif.
"Alhamdulilah hasilnya non reaktif semua. Kami hanya diinteuksikan 200 orang dari Dindik pada hari ini," terangnya.
Berdasarkan informasi yang telah diperiksa, masalah dasar tidak efektifnya rapid test ini karena para guru ketakutan. Padahal sebagai tenaga pendidik bertugas mencerdaskan bangsa, kondisi kesehatannya harus dipastikan agar tidak menjadi klaster baru.
"Kami mendengar dari teman yang datang katanya banyak yang takut. Bingun juga kalau takut. Gurunya takut apalagi muridnya. Proses belajar tatap muka harus dipastikan gurunya sehat," ungkapnya.
Ia menjelaskan, seharusnya rapid test untuk guru digelar lebih dari waktu satu minggu. Mengingat, terdapat ribuan guru yang mengajar di sekolah. Dengan kondisi saat ini, pihaknya menghibau agar guru agar tetap mengontrol kesehatannya sebelum mengajar di sekolah.
"Kami menghimbau kepada guru untuk menjaga kesehatannya, karena akan belajar tatap muka. Guru harus jelas juga, sehat atau tidak? Iya cuma hari ini (rapid test)," jelasnya. (Son/TN1)