Protes Kompensasi Belum Turun, Warga Buang Sampah di Depan Kantor Kecamatan Taktakan

Sampah yang berada di depan Kantor Kecamatan Taktakan. (Foto: TitikNOL)
Sampah yang berada di depan Kantor Kecamatan Taktakan. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Masyarakat di Taktakan buang sampah di Kantor Kecamatan Taktakan dan kantor Desa Cilowong. Hal itu diduga bentuk protes lantaran belum dipenuhinya tuntutan kompensasi dari kerja sama pembuangan sampah Pemerintah Kota (Pemkot) Serang dengan Pemkot Tangsel, Selasa malam (26/10/2021).

Dari video yang terseber di whatshapp, sampah itu diturunkan dari mobil losbak di Kantor Kelurahan Cilowong dan Kecamatan Taktakan.

Para warga merasa dirugikan dengan bau sampah yang melewati pemukiman yang diangkut oleh mobil pembuangan sampah Tangsel. Alasannya, karena air lindih berceceran ke jalan Raya.

Protes itu buntut dari tidak adanya titik temu saat musyawarah masyarakat dengan Pemkot Serang. Warga menuntut kompensasi sampah dari kerja sama Tangsel dibayar cash selama satu tahun.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Roni mengatakan, hasil musyawarah Pemkot Serang dan masyarakat tidak menemui titik temu. Sebab para warga minta kompensasi dibayar cash sebesar Rp1,47 miliar. Sedangkan keuangannya hanya ada Rp367 juta.

"Saya buru-buru ngejar mereka nih. Yang tokoh masyarakat Cakung Raya. Kan belum ada kesepakatan nih, mintanya perwakilan RT, RW itu ada dana Rp1,47 miliar mintanya dibayar cash sekarang. Uang yang ada itu berdasarkan progres, sekarang yang ada Rp367 juta," katanya.

Ia menerangkan, uang Rp1,47 miliar itu estimasi hingga bulan Desember 2021. Menurutnya, masyarakat Cakung Raya yang melakukan protes ini, tidak terakamodir pada saat akan melakukan kerja sama. Sebab pada waktu itu, Pemkot mendahulukan warga yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong.

"Nggak mungkin, kan kita sapai desember, diestimasi kalau lancar kita ada uang Rp847 juta ditambah dengan uang asalamualaikum Rp200 juta. Jadi Rp1,47 juta. Tadi nggak mau, inginnya uangnya cash gitu," terangnya.

Sejauh ini, pihaknya mengaku sedang melakukan pola cara yang terbaik agar air lindih sampah kiriman Tangsel tidak berceceran di Jalan Raya.

"Kami sedang upaya mencari pola yang terbaik, agar sampah ini tidak terlalu bau. Yang bau memang air lindihnya ini, sehingga menimbulkan bau kalau sampahnya organik, kalau sampah non organik nggak mau," paparnya.

Pada saar un juk rasa pada 21 Oktober 2021 di Kantor Kelurahan Cilowong, Ketua Forum RT, RW Kelurahan Cilowong, Mastura mengaku kurang lebih ada 40 dumtruk yang mengirimkan sampah dari Tnagsel dalam kurun waktu sehari.

Menurutnya, bau busuk sampah yang tercium warga itu dari air lindih yang turun ke jalan. Karena terdapat bekas hitam di Jalan Raya Taktakan.

"Yang di permasalahkan dari Tangsel, air lindih itu hitam ke jalan. Lumayan bukan bau, bau lagi," ungkapnya.

Secara kasap mata, pihaknya dapat membedakan mobil pengangkut sampah milik Tangsel dan Kota Serang.

"Beda saja mobilnya. Dumtruk (dari Tangsel) yang warna putih dan kuning," jelasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, TitikNOL masih berupaya mengkonfirmasi warga dan pihak Kelurahan Cilowong atas protes pembuangan sampah tersebut. (Zar/TN2)

Komentar