Dirut PT Krakatau Steel Terpilih Menjadi Chairman IISIA

Suasana Musyawarah Nasional ke-3 IISIA di Hotel Royal Kuningan Jakarta. (Foto: Ist)
Suasana Musyawarah Nasional ke-3 IISIA di Hotel Royal Kuningan Jakarta. (Foto: Ist)

JAKARTA, TitikNOL – The Indonesian Iron And Steel Industry Association (IISIA), menggelar Musawarah Nasional (Munas) 2017. Munas dengan tema "Revitalisasi Industri Baja Nasional Untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi Nasional " tersebut berlangsung di Hotel Royal Kuningan Jakarta, Rabu (15/11/2027) kemarin.

Munas ke-3 ini dihadiri Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian RI I Gusti Putu Suryawirawan, Chairman IISIA Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan RI Kasan Muhri, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Sayid Muhadhar serta Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu.

Dalam Munas tersebut, Direktur Utama PT Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi terpilih menjadi Chairman IISIA periode 2017-2021.

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menjelaskan, bahwa permintaan baja Indonesia yang terus tumbuh ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Sektor-sektor pengguna baja yang terpenting adalah sektor konstruksi dan industri manufaktur.

Data yang dirilis oleh South East Asia Iron & Steel Institute (SEAISI) hampir seluruh negara ASEAN-Six mencatatkan laju pertumbuhan konsumsi baja 2 digit pada tahun 2016.

“Khususnya di negara kita ini, konsumsi baja Indonesia meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dari 11.47 juta ton (finished steel) di 2015 menjadi lebih dari 12.67 juta ton di tahun 2016 (finished steel) atau mencatat pertumbuhan sebesar 11%,” kata Mas Wigrantoro.

Sementara itu, I Gusti Putu dalam sambutannya menyatakan bahwa harus terjadi keseimbangan antara permintaan dan ketersediaannya.

“Jadi jangan sampai regulasi berpotensi merugikan salah satu pihak. Impor tetap akan dibutuhkan untuk memenuhi produk baja yang belum bisa tersedia di dalam negeri. Namun hal yang sebaliknya juga jika produsen dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar, jangan para pabrikan mengambil produk impor. Hal ini juga salah,” ujar I Gusti Putu.

Ia menyarankan, agar dalam forum ini para pelaku baja juga dapat dibahas setiap sektor untuk menghasilkan formula yang terbaik dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Ia berharap agar utilisasi baja dapat ditingkatkan hingga mencapai 80 persen dan ditambah dengan adanya upaya pemerintah menggerakkan infrastruktur.

Sementara Direktur Eksekutif IISA Hidayat Triseputro menambahkan, peluang tumbuhnya industri baja nasional cukup besar.

“Konsumsi baja perkapita kita saat ini masih sangat rendah yaitu 49 kg pada tahun 2016. Namun, dibutuhkan upaya dari semua pihak untuk meningkatkan penggunaan baja. Sampai hari ini baja impor terus membanjiri pasar domestik kita, tentu kami menyadari bahwa untuk beberapa penggunaan baja spesifikasi tertentu, kami belum dapat sepenuhnya memasok baja yang diperlukan, akan tetapi kami berharap agar kami diberi kesempatan untuk bersaing dengan fair. Praktek mengeskpor baja dengan harga dumping atau dibawah harga yang wajar tidak dapat diterima meski dengan dalil keterbukaan pasar,” jelas Hidayat.

Pada kesempatan itu, Hidayat juga mengaku akan berupaya mendetilkan bersama asosiasi untuk meningkatkan utilisasi pabrik baja lokal sekaligus mengundang investor masuk dalam menambah kapasitas dalam negeri. Selain itu Munas IISIA ini juga akan mendorong perbaikan regulasi-regulasi yang belum tertata dengan baik untuk keberpihakan kepada produsen baja lokal.

Salah satu anggota IISIA, Andi Soko selaku perwakilan dari PT Krakatau Posco berharap kepada Chairman yang terpilih nanti agar kebijakan yang diambil asosiasi dapat memperjuangkan dan melindungi kepentingan industri baja nasional.

"Tentunya kebijakan berpihak kepada kita. Apalagi banyak kebijakan pemerintah yang harus didorong berpihak pada industri dalam negeri. Misalkan melindungi produk dalam negeri. Kalau sudah diproduksi di dalam negeri, jadi tidak perlu impor lagi," harapnya. (Ardi/red)

Komentar