Lulusan SMK Mendominasi Angka Pengangguran Di Banten

BPS Banten saat merilis keadaan ketenagakerjaan Banten Februari 2019 dan pertumbuhan ekonomi Banten triwulan I-2019. (Foto: TitikNOL)BPS Banten saat merilis keadaan ketenagakerjaan Banten Februari 2019 dan pertumbuhan ekonomi Banten triwulan I-2019. (Foto: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL - Badan pusat statistik (BPS) Banten, merilis jumlah pengangguran terbuka di Provinsi Banten dari Februari 2017 - Februarii 2019.

Dari angka pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan pada tahun 2019, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi angka paling tinggi dibanding tingkat pendidikan lainnya.

Jumlah pengangguran di tingkat pendidikan SMK sebanyak 104.985 orang, dari sebanyak 901.326 orang angkatan kerja tingkat pendidikan SMK.

Angka presentase pengangguran sesuai pendidikan pada tahun 2019 antara lain, Sekolah dasar (SD) 5,45 persen, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 7,13 persen, Sekolah Menengah Atas (SMA) umum 10,06 persen, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 11,65 persen, Diploma I/II/III 3,87 persen dan lulusan universitas 5,69 Persen.

Dari data di atas, menunjukkan tingkat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) patut dipertanyakan. Pasalnya, lulusan yang seharusnya siap bekerja malah menduduki tingkat tertinggi angka pengangguran menurut tingkat pendidikan di Banten.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Banten Tuty Amalia mengatakan, hal demikian menjadi tugas besar bagi Pemprov untuk menyerap tenaga kerja dari lulusan SMK.

"Masih menjadi PR besar pemerintah Provinsi Banten untuk bisa menyerap tenaga kerja dari lulusan SMK. Kalau kemarin kita pernah bicara dengan dinas tenaga kerja dan dinas pendidikan, memang barang kali kurikulum yang ada di sekolah menengah kejuruan kita belum sesuai dengan lapangan kerja yang ada," kata Tuty Amalia kepada wartawan.

Kendati demikian, Tuty juga menjelaskan, sistem survey yang dilakukan pihak BPS mengambil sampel sebanyak 10 orang dari setiap RT lalu mendatanginya.

"Kalau Survey angkatan kerja nasional langsung ke rumah tangga tidak melihat kartu kuningnya kita wawancara langsung, Satu wilayah kerjanya blok sensus satu RT macam-macam kan jumlah penduduknya bisa banyak. Jadi kita ambil sampel setiap satu RT itu 10 rumah tangga saja pakai program kita ambil 10 rumah tangga yang mewakili kondisi di satu RT tersebut," paparnya.

"Jadi untuk Provinsi Banten kemarin kita sekitar jumlah sampelnya 690an, paling banyak Kabupaten/ Kota Tangerang, karena dia wilayah paling besar kalau Februari kita sampel lebih sedikit dibanding bulan Agustus karena mewakili kabupaten kota kalau Februari hanya provinsi saja, kalau Agustus bisa sampai 4 kali lipat, margin eror tidak lebih dari 5 persen," tutupnya. (Lib/TN1)

Komentar