Mahasiswi UIN Jakarta Meninggal di RSDP Serang Diduga Suspect Difteri

Foto ilustrasi. (Dok: net)
Foto ilustrasi. (Dok: net)




SERANG, TitikNOL - Aufatul Khuzzah (19), pasien yang didiagnosa suspect difteri warga Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, meninggal dunia di RS Dradjat Prawirangera (RSDP) pada Minggu (24/12/2017).

Korban yang merupakan mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini meninggal diduga karena Suspect Difteri, setelah menjalani medis di ruang isolasi di RSDP Serang.

Dikatakan Direktur RSDP Serang Agus Gusmara, Aufatul Khuzzah dinyatakan negatif difteri dari hasil laboratorium Litbang Kemenkes. Sementara itu, korban meninggal lantaran penyakit lain yang dideritanya.

“Pada saat rumah sakit pasien mengalami suspect difteri, pasien kita rawat di ruang isolasi. Setelah ada keterangan dari Kemenkes bahwa negatif, pasien kita pindah ke ruang perawatan biasa karena ruang isolasi khusus untuk pasien suspect difteri," kata Agus dihubungi via telepon.

Agus menjelaskan, selain Suspect Difteri, pasien juga didiagnosa mengalami Hypovolemic ec melena ec myocarditis ec acidosis artinya kekurangan jumlah cairan tubuh disebabkan keluar darah dari saluran cerna/berak dan darah disebabkan infeksi otot jantung yang disebabkan keracunan/keasaman cairan tubuh.

“Ini kelihatannya penyakit lain. Sementara diduganya difteri ternyata mungkin penyakit lain. Jadi di ruang isolasi memang dikhususkan difterinya,” jelasnya.

Agus menceritakan pertama kali almarhumah Aufatul Khuzzah masuk rumah sakit pada tanggal 9 Desember dengan suspect difteri. Karena diduga difteri, pasien pun langsung ditangani dan mendapatkan perawatan di ruang isolasi pada jam 12.35 WIB.

Kemudian karena pasien menimbulkan gejala secara klinis mirip karena ada yang menunjang di tenggorokan di dalamnya ada membrant persis difteri maka pasien disuntikan Anti Difteri Serum (ADS) walaupun belum dinyatakan positif.

Selama dirawat di ruang isolasi, lanjut Agus, kondisi pasien tetap survive atau bertahan, namun kondisinya turun naik. Selain itu, karena pada awal masuk rumah sakit, hemoglobin (HB) pasien 9,8, pada tanggal 14 Desember, kondisi pasien menurun karena HB-nya turun hingga mencapai 6.

“Dokter spesialis saat itu memerintahkan transfusi 2 labu. Besoknya 16 Desember ada perbaikan HB-nya jadi 7,8 tapi itu belum aman. Dikasih lagi transfusi lagi 1 labu darah. Kemudian tangal 18 HB-ya jadi 11,3 ini dianggap aman jadi diberhentikan. Cuma dia masih survive. Hasil dari kemenkesnya belum ada,” ujarnya.

Pada tanggal 21 Desember, kondisi pasien kembali drop dengan HB 7,5, dokter belum memerintahkan untuk tranfusi lagi. Tapi besoknya pada 22 Desember HB jadi 6 lagi.

“Ini rencana mau itranfusi 2 labu dan tanggal 22 ada informasi dari Litvangkes Kemenkes hasilnya negatif difteri,” sambungnya.

Ketika hasil negatif maka bahaya jika pasien tetap di ruang isolasi karena ada pasien lain (yang suspect dofteri), akhirnya rumah sakit memindahkan pasien ke Ruang Dahlia, ruang perawatan biasa.

“Tangal 23 Desember dipindah ke Dahlia. Karena 22 negatif difteri dari kemenkes. Pada tanggal 24 Desember, korban sudah meninggal dunia," tegasnya. (Gat/red)


Komentar