Upah Tinggi, Penyebab Perusahaan Hengkang dari Banten

Ilustrasi. (Dok: Radarbogor)
Ilustrasi. (Dok: Radarbogor)

SERANG, TitikNOL – Pasca dikabarkan hengkangnya sejumlah perusahaan di Provinsi Banten, iklim investasi di Banten menurun.

Berdasarkan informasi yang diperoleh TitikNOL, sebanyak 25 pabrik alas kaki sudah hengkang dari Banten. Bahkan dikabarkan, ada tiga perusahaan pabrik sepatu yang merencanakan minggat lagi dari Banten.

Hengkangnya perusahaan-perusahaan dari Banten akibat Upah Minimum Kerja (UMK) di daerah Industri di Banten dianggap tinggi.

Hilangnya perusahaan dari Banten pun akan berdampak besar pada angka pengguran di Banten. Padahal saat ini, Banten menjadi daerah tertinggi angka pengangguran se-Indonesia.

Menanggapi hal demikian, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akan semakin mempermudah layanan investasi di Banten.

Hal itu juga kata Andika, sudah menjadi komitmennya sebagai Wakil Gubernur Banten untuk menjaga kondusifitas investasi di Banten.

“Tentu kami akan memberikan kemudahan terhadap layanan investasi di Banten dan itu menjadi komitmen saya untuk bagaimana menjaga iklim kondusifitas dari investasi di Provinsi Banten,” katanya kepada TitikNOL saat ditemui di Hotel Le Semar, Kota Serang, Kamis (14/11/2019).

Menurut Andika, hengkangnya perusahaan-perusahaan dari Banten akibat upah yang begitu tinggi, perlu ada evaluasi bersama antara pemerintah Provinsi banten dan Kabupaten Kota.

“Yang kita hadapi ini kan terkait UMK, bahwa Jawa tengah lebih murah banyak yang hengkang Tapi pada saat proses pengupahan ini juga kami mengikuti aturan pemerintah pusat, kalau tidak mengikuti itu juga kita bisa disalahkan,” ujarnya.

“Solusinya kalau perusahaan mereka aspeknya bisnis jadi mana yang lebih murah, mana yang biaya produksinya murah akan lari ke sana, jadi bagaimana caranya ini Banten yang pertama harus dijaga adalah iklim investasi yang kedua juga dari sisi biaya produksi harus dapat memberikan minat kepada investor,” tukasnya. (Lib/TN1)

Komentar