SERANG, TitikNOL - Banjir masih menjadi persoalan rutinitas tahunan di berbagai daerah, tak terkecuali Kabupaten Serang. Tidak jarang setiap hujan deras turun, pemukiman yang berdekatan dengan aliran sungai terimbas luapan air dan menyebabkan banjir.
Antisipasi perlu dilakukan untuk memetakan sejumlah titik potensial banjir. Pemetaan dilakukan mulai dari desa yang potensial terendam banjir, jika hujan deras melanda.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Serang, M. Ronny Nurtadipraja mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang telah membuat master plan dalam rangka pencegahaan sekaligus mengentaskan banjir.
Menurutnya, formula dalam mengatasi banjir di Kabupaten Serang, akan dibangun drainase terintegrasi. Mengingat, persoalan banjir yang kerap terjadi disebabkan oleh dua faktor, yakni luapan sungai Ciujung dan sistem drainase yang kurang baik.
“Tugas kita membuat perencanaan drainase terintegrasi, yang fungsinya mengalirkan air dari tangkapan akibat hujan di desa sepanjang tanggul sungai Ciujung. Airnya nanti dialirkan ke intik daerah yang lebih rendah dan dibuang ke sungai atau dengan pompanisasi,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/3/2021).
Ia menjelaskan, persoalan banjir menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Sejak tahun 2019, Pemerintah Pusat telah menjalankan kegitan pembuatan tanggul di sepanjang sungai Ciujung. Program itu bertujuan agar lupan air tidak sampai ke pemukiman warga.
Proses pembangunan hingga saat ini belum rampung dan masih berjalan. Menyambut program itu, Pemkab Serang membuat rencana induk penanggulangan risiko banjir. Master plan itu akan ditindak lanjuti melalui Peraturan Bupati (Perbup) Serang. Hal itu agar penanganan banjir terencana.
“Sehingga kita punya arah yang jelas penanganan banjir. Nanti nggak temporer lagi, ada banjir tangani, tahun depan banjir tangani lagi, tapi tidak menuntaskan. Harapnnya dengan yang dibuat sekarang, penanganan jelas dari tahun ke tahun, hingga banjirnya tidak ada,” jelasnya.
Ronny menerangkan, semua tata cara penanganan banjir terangkum dalam master plan, mulai dari pompa air, sumur resapan dan lain sebagainya. Namun, fokus saat ini membangun drainase terintegrasi untuk mengalirkan air yang tidak dapat dibuang ke sungai Ciujung karena ada tanggul.
Setiap program pencegahan banjir disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan desa. Hingga akhirnya wilayah itu terbebas dari banjir. Sebab pihaknya sadar betul, banjir bergantung pada debit air di sungai yang melintas pemukiman, seperti sungai Ciujung.
“Sekarang Ciujung ditangani pusat, yaitu melakukan penanggulan di sungai Ciujung, sudah dilakukan 2019. Kenapa masih ada banjir? Karena penanggulangannya belum selesai, ada titik yang belum tertanggul. Ketika sudah ditanggul, debit air sungai tinggi, airnya tidak melimpas masuk ke kampung. Debit maksimal sungai Ciujung tidak melimpas,” terangnya. (ADV)