Kesiapan Belajar Tatap Muka Digodok, Kadindikbud Banten Singgung Kejenuhan Orangtua

Kepala Dindikbud Provinsi Banten Tabrani. (Dok: TitikNOL)
Kepala Dindikbud Provinsi Banten Tabrani. (Dok: TitikNOL)

SERANG, TitikNOL – Sejak pandemi Covid-19 melanda wilayah Banten, kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi dilakukan jarak jauh atau online. Atas kondisi itu, saat ini Pemprov Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten tengah menggodog kebijakan belajar tatap muka bagi siswa SMA/SMK.

Kepala Dindikbud Provinsi Banten Tabrani mengatakan, sekolah saat ini tengah mempersiapkan fasilitas untuk menggelar model pembelajaran tatap muka di tengah pandemi Covid-19.

“Tatap muka posisi hari ini sekolah mempersiapkan untuk KBM tatap muka. Mempersiapkan sarana penunjang prokes. Misalnya menyiapkan wastafel yang airnya mengalir, sabun untuk cuci tangan, hansanitazer, thermogun,” katanya saat jadi narasumber diskusi daring, Rabu (18/11/2020).

Ia menyebutkan, belajar tatap muka akan digelar setelah ada izin dari satgas percepatan penanganan penyebaran Covid-19 Provinsi Banten. Setelah itu, pada tahap awal kapasitas kelas akan menampung 50 persen dari murid. Hal ini akan dilakukan secara bertahap, hingga penegakan protokol kesehatan di sekolah bisa maksimal. Sehingga clear, anak sekolah tidak jadi tempat penyebaran dan kalster baru.

“Ini dimaksudkan untuk sarana penerapan prokes sudah siap. Tatap muka dilaksanakan setelah Dindik mendapatkan rekomendasi dari satgas Covid-19. Sepanjang kami tidak dapat rekomendasi, kami menyelanggarakan daring. Bila memang besok diizinkan juga tidak sekaligus, akan bertahap. 50 persen masuk, 50 daring,” ungkapnya.

Tabrani mengakui, bahwa belajar tatap muka atau luar jaringan (luring) lebih efektif dibandingkan dengan belajar secara daring. Terlebih, masih terdapat di beberapa daerah yang masih kesulitan signal. Ditambah, guru tidak dapat memberikan nilai sesuai perkembangan murid.

“Kalau bicara efektifitas dibanding luring dengan daring jelas luring. Guru bisa tatap muka langsung. Nilai yang diberikan oleh guru langsung. Pasti ada hambatan karena daring belajar di rumah. Tapi daring jadi alternatif di masa seperti ini untuk mengurangi risiko penularan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, belajar daring sebuah emergency. Sebab, belajar Luring dikhawatirkan akan dapat menjadi penyebaran. Namun, tidak sedikit juga orangtua yang mengeluh tidak gampang dalam membimbing anak belajar di rumah.

“Kalau optimis kita harus optimis. Kalau begini ada keluhan juga dari orangtua. Kalau misalnya ada anak satunya kelas SMA, terus satunya lagi SMP, itu rambutnya kriting. Ternyata jadi guru di rumah tidak gampang,” jelasnya.

Menurutnya, pada pelaksanaan tatap muka nanti tidak perlu ada izin dari orangtua. Meskipun pada praktiknya ada yang menolak, maka sekolah akan menyediakan belajar online.

Sejauh ini juga, kata Tabrani, Dindik belum memprogramkan melakukan tes masal untuk para guru. Pihaknya mengaku akan berkoordinasi terkait hal ini dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten.

“Kalau nanti tatap muka ada terpapar, KLB belum dicabut tanggung jawab pemerintah. Persetujuan sekolah tatap muka, sekolah tidak perlu izin orangtua. Itu kebijakan pemerintah. Kalau dalam perjalanannya ada kasus, itu akan kami evaluasi,” paparnya.

Senada dengan Ketua Komisi V DPRD Provinsi Banten Muhamad Nizar. Menurutnya, pada saat wakil rakyat itu menggelar reses, yang paling banyak keluhan dari orangtua menginginkan belajar tatap muka. Bahkan bagi sebagian masyarakat awam, mereka tidak percaya bahwa Covid-19 ini benar-benar ada.

“Pandangan awam itu, mereka merasa Covid-19 itu tidak ada. Ini tantangan Dindik. Kalau tatap muka berjalan, gimana prilaku anak-anak? Yang dewasa saja susah diatur, apalagi anak-anak,” paparnya.

Politisi Gerindra itu meminta agar Dindik membuat metode baru dalam menjalankan model pembelajaran daring. Hal itu untuk meminimalisir kejenuhan murid yang kebanyakan dikasih tugas.

“Ini posisi dilematis, penyebaran mengganggu masyarakat. Ini membuat kecemasan sudah 9 bulan adik-adik tidak sekolah, mereka sekolah daring. Luring tentu berbeda. Bagaimana belajar teori, interaksi dengan guru dan siswa. Kalau daring, agak kerepotan juga para orangtua. Mungkin ada juga kejenuhan, ada metode untuk anak-anak agar tidak jenuh. Ini PR bagi kita,” tukasnya. (Son/TN1)

Komentar