Tolak Pembangunan Pabrik Berakhir Ricuh

Massa saat membongkar paksa tembok pembatas milik PT PT Tirta Presindo Jaya (Herlina)Massa saat membongkar paksa tembok pembatas milik PT PT Tirta Presindo Jaya (Herlina)

SERANG, TitikNOL - Ratusan santri dan kyai melakukan aksi unjuk rasa menolak pembangunan perusahaan air mineral di lahan milik PT Tirta Presindo Jaya (TJP), Mayora Group di Kampung Cipancur, Desa Suka Indah Kecamatan Baros berakhir ricuh. 

Kericuhan terjadi lantaran massa menyerang mobil yang diduga milik karyawan perusahaan dan tertangkapnya seorang provokator.

Bahkan, ratusan massa mencoba merobohkan dinding beton yang dibangun perusahaan menggunakan palu berukuran besar. Kericuhan pun kembalui terjadi tepat saat Kapolres Serang AKBP Nunung Syaifuddin baru tiba di lokasi dan mengajak massa beraudiensi. 

Salah seorang pengunjuk rasa Syahroni mengatakan, lahan yang bakal dijadikan gudang air minum kemasan oleh PT PT Tirta Presindo Jaya merupakan area mata air dan tempat cagar budaya santri.

Oleh karena itu, menurutnya tidak seharusnya kekayaan alam itu diduduki untuk kepentingan bisnis. “Di sini ada enam mata air yang tertutup karena diuruk. Akibatnya suplai air ke masyarakat jadi kurang malah jadi kering,” ujarnya. 

Menurutnya, warga sempat merasa senang ketika Pemkab Pandeglang mencabut izin investasi perusahaan mengingat sebagian lahannya masuk ke wilayah Kabupaten Pandeglang. Tetapi belakangan perusahaan kembali menggelar aktivitas dengan membuat pagar.

“Ini ada aktivitas lagi makannya kami datangi lagi, selain itu malamnnya ada yang menantang kami entah itu dari perusahaan atau warga yang sehingga massa sekarang jadi panas,” katanya.

Dia menegaskan, apa yang ditunjukan para santri dan kyai dengan menduduki lahan perusahaan adalah bentuk kesungguhan mengenai penolakannya. Jika Pihak perusahaan tidak merespon aksi tersebut maka dirinya menjamin akan ada aksi yang lebih besar lagi. 

“Penolakan kami bukan main-main, buktinya sekarang kami bisa duduki lahan perusahaan. Kalau masih ngeyel mungkin kami bisa berbuat lebih dari ini. Pokoknya kami menolak ada pembangunan di lahan ini mau itu pabrik mau itu gudang,” ungkapnya.

Setelah puas melakukan aksi sekitar pukul 10.30 WIB akhirnya massa membubarkan diri secara tertib didampingi aparat Polres Serang dan Pandeglang. Kapolres Serang AKBP Nunung Syaifuddin mengatakan, agar polemik tidak berkepanjangan pihaknya akan mencoba menggelar mediasi dengan kedua belah pihak.

“Tuntutan warga akan kami akomodasi tapi yang berhak menentukan sikap kepolisian adalah negara. Beri kami waktu untuk menyelesaikan masalah ini dengan memediasi kedua belah pihak,” tuturnya. (Her/Red)

TAG demo
Komentar